Bagaimana pendapat anda tentang laman ini ?

Statistik

Senin, 18 November 2013

Jejak Keilmuan Ulama Nusantara: Syekh Ihsan Jampes




            Menyusuri jalan Purwoasri – Jampes, Kediri adalah salah satu perjalanan kami setelah hari raya kemarin, tepatnya hari Sabtu, 10 Agustus 2013. Sekitar Jam 10 siang, kami sudah tiba di lokasi, desa Jampes, Kediri. Perjalanan ini dipandu M. Khoirul Huda, sebagai mahasantri Darusunnah semester 7 dan anggota Permadi (Persatuan Mahasiswa Kediri) dalam rangka ziarah ke beberapa ulama Nusantara, disekitar Jawa Timur. Di hari itu, kami singgah di makam Syaikh Ihsan bin Dahlan Jampes, ulama kenamaan dari Kediri yang terkenal tidak hanya sebagai ulama lokal saja, namun juga lewat kitab-kitab yang mentahbiskannya sebagai ulama fiqh, hadits, dan tasawuf. Khusus yang terakhir ini, terangkatnya masterpiece-nya yang berjudul Sirāj al-Thālibin, Sebuah penjelasan atas kitab tasawuf yang disusun Imam al-Ghazali berjudul Minhaj al-‘Abidin. Sirāj al-Thalibin sampai menjadi kitab pegangan di berbagai perguruan tinggi di berbagai Negara dan pesantren di Indonesia. yang fokus mengkaji akhlak dan kesufian dalam Islam.
             
Syaikh Ihsan: Dari Bakri ‘Nakal’ Menjadi Zahid nan Arif
            Nama beliau, terutama dalam dunia pesantren sudah dikenal dan telah banyak ditulis baik di media cetak maupun elektronik. Namun, menziarahi makam beliau secara langsung tidak hanya menjadikan kami tahu saja siapa beliau, namun merasakan atmosfir kekhusyuan dan rasa takzim atas perannya sebagai salah satu ulama yang punya peran besar dalam mengembangkan agama Islam, di Jawa khususnya. Ulama kelahiran dusun Jampes, desa Putih, kecamatan Gempengrejo, Kediri ini bernama lengkap Ihsan bin Muhammad Dahlan. Putra dari Kyai Dahlan bin Saleh dan Nyai Isti’anah, seorang ulama lokal di Gampangrejo Kediri. Sang kakek, Kyai. Saleh adalah ulama asal Bogor, Jawa Barat yang menghabiskan hidupnya belajar di pesantren di Jawa Timur, hingga menjadi penduduk setempat dan menikah dengan putri seorang ulama dari Trenggalek yang melahirkan Mubari, alias Kyai Dahlan.[1] Sementara, Nyai Isti’anah adalah putri dari KH. Mesir putra K. Yahuda, seorang ulama dari Lorog Pacitan yang sanadnya bersambung dengan kesultanan Mataram abad ke-16.
Dalam kesehariannya, Ia mempunyai beberapa kebiasaan yang tidak lazim dilakukan oleh seorang yang hidup di dunia pesantren. Pertama, ia adalah orang yang sangat menggemari wayang, baik sang dalang sudah mahir maupun pemula. Sampai, suatu saat ia pernah berdebat karena menegur sang dalang yang melakukan pertunjukan keluar dari “pakem” yang ada. Kedua, ia sering mendatangi, dan ikut serta dalam perjudian. Memang, pada prakteknya yang dilakukan Bakri kecil saat itu menjadikan para bandar judi kapok Suatu ketika, sang bunda Ny. Isti’anah mengajaknya ke makam leluhurnya, K.Yahuda di Lorog, Pacitan, untuk mendoakan tingkah polah anaknya. Konon, Bakri kecil dimimpikan oleh K.Yahuda setelah itu dan meminta Bakri untuk berhenti berjudi. Namun, Bakri bersikeras hingga membuat K.Yahuda mengambil batu besar dan memukulkan ke kepalanya hingga berantakan. Sontak, mimpi itu menyentak Bakri dan membuatnya tersadar, dan hal itu membuatnya banyak menyendiri dan merenung.

Perjalanan Keilmuan
            Sejak mengalami mimpi tersebut, ia banyak melakukan perjalanan keilmuan (walaupun sejak awal ia sudah dikenal sebagai anak yang cerdas dan rajin membaca). Ia melakukan pengembaraan dari satu pesantren ke pesantren lain, diantaranya: Pesantren Bendo, Kediri asuhan sang paman, K.H. Khozin; Pesantren Jamseran, Solo; Pesantren asuhan K.H. Dahlan,[2] Semarang; Pesantren Mangkang, Semarang; Pesantren Punduh, Magelang; Pesanten Gondanglegi, Nganjuk; hingga Pesantren Bangkalan, Madura asuhan ‘Guru Para Ulama’, K.H. Kholil.
            Hal yang menarik dari setiap masa belajar di pesantren tersebut, ia tidak menghabiskan waktu yang lama, mulai dari 2 minggu sampai 1 tahun saja. Ia mendatangi satu pesantren, untuk mendalami ilmu tertentu untuk kemudian berpindah ke pesantren lain, dan ia tetap bisa melakukan istifadah dari setiap dari pesantren tempat ia belajar. Sisi lain, ia selalu menutupi identitasnya sebagai anak Kyai Dahlan, dan enggan dipanggil “Gus” (panggilan santun dan takzim kepada putra kyai). Bahkan, ia akan segera pergi jika identitasnya diketahui.

Meneruskan Perjuangan Sang Ayah
Inside:
Sebagai sebuah objek wisata Islam, makam Mbah Ihsan satu dari sekian makam ulama yang terdapat di Kediri. Sebagai rekomendasi, di Kediri saja setidaknya ada 3 situs makam yang bisa dikunjungi,  Diantaranya:
a.    Makam Syekh Ihsan Kediri di daerah Jampes, sekitar 10 km sebelum kota Kediri.
b.    Kompleks Makam Setono Gedong, di Pusat Kota Re diantara yang bisa diziarahi adalah Mbah Washil, penyebar Islam pertama di Kediri. Dalam satu riwayat, beliau pernah berdakwah kepada Pangeran Jayabaya.
c.     Kompleks makam, pendiri Pesantren Lirboyo, sekitar 5 km sebelah barat kota Kediri. Para pendiri Lirboyo, tersebut adalah: K.H. Abdul Hamid, K.H. Mahrus ‘Aly, dan K.H.
            Setelah wafatnya sang ayah, K.H. Dahlan pada tahun 1932 kepercayaan Pesantren Jampes dipercayakan kepada Syaikh Ihsan setelah amanat itu dipegang oleh K.H. Kholil, adik sang ayah selama lebih kurang 4 tahun. Sejak itulah ia mulai mengelola pesantren. Dimasanya, Pesantren Jampes mengalami perkembangan, mulai dari jumlah santri dari + 150 orang hingga menjadi + 1000 orang yang menyebabkan pesantren melakukan perluasan sebesar 1,5 hektar. Lebih dari itu, di awal zaman Jepang mendirikan Madrasah Miftahul Huda dengan materi yang semakin terkonsep dan terjadwal
            Selain membina pendidikan di Pesantren, beliau masih sempat menulis, ilmu – ilmu yang terdapat dalam khazanah keilmuan pesantren, diantaranya Fiqh, Tasawuf, Falak, dan sebagainya. Beberapa karya yang dihasilkan, diantaranya:
-        Tashrih al-‘Ibarat, kitab yang menjelaskan ilmu falak. Kitab ini juga merupakan syarh (penjelasan) dari kitab Natijah al-Miqot yang disusun oleh K.H. Ahmad Dahlan, dari Semarang
-        Manahij al-Imdad, penjelasan dari kitab Irsyād al-‘Ibād yang disusun Syaikh Zainudin al-Malibari tentang masalah-masalah fiqh.
-        Irsyad al-Ikhwan fi Bayān al-Qahwah wa ad-Dukhan. Kitab ini disusun dengan model bait syair (mandzumah). Kitab ini membahas perbedaan pendapat tentang status hukum kopi dan rokok, yang populer dikonsumsi masyarakat nusantara.
-        Sirāj al-Thalibin, penjelasan atas kitab tasawuf yang disusun Imam al-Ghazali, Minhaj al-‘Abidin. Kitab yang terakhir ini, banyak dipakai di pesantren-pesantren Indonesia, bahkan kitab ini tersebar di negara Timur Tengah saat dicetak oleh sebuah percetakan terkenal di Mesir, Dar al-Bab al-Halabi.[3]

Para Murid dan Akhir Hayatnya
            Beliau wafat pada hari Senin, 25 Dzul-Hijjah 1371 H, atau September 1952 di usia 51 tahun. Dengan meninggalkan pesantren dengan ribuan santri, serta seorang istri dan delapan putra – putri. Warisan yang paling berharga, tidak lain hanyalah kedalaman ilmunya baik yang diajarkan kepada para murid, maupun yang dituliskan dalam bentuk kitab – kitab yang mempunyai penjelasan sangat mendalam, meskipun ditulis dimasa muda.
            Beberapa murid Syaikh Ihsan, yang mewarisi dan meneruskan perjuangannya dalam berdakwah melalui pesantren adalah: Kiai Soim, pengasuh pesantren di Tangir, Tuban; K.H. Zubaidi, pengasuh pesantren di Mantenan, Blitar; K.H. Mustholih di Kesugihan, Cilacap; K.H. Busyairi, Sampang, Madura; Kyai Hambali, Plumbon, Cirebon; dan Kyai Khozin, Tegal. ((dari berbagai sumber. Masrur))


[1] Dikutip dari: “Ensiklopedia Ulama Nusantara” oleh H.M. Bibit Suprapto. Diterbitkan oleh Gelegar Media Indonesia, Jakarta. Hal. 407
[2] Dari beliaulah, ia mengaji ilmu falak selama 20 hari. Dan ia, juga telah men-syarah-kan kitab gurunya yang berjudul Tashrih al-‘Ibarat
[3] Bahkan, Raja Faruq saat itu pernah datang khusus ke Jampes, Kediri untuk meminta Syaikh Ihsan Jampes, mengajarkan kitabnya di Mesir. Namun, permintaan itu ditolak oleh beliau karena ia tetap ingin mengajar di Jampes dan melayani masyarakat.
Belakangan ini muncul cetakan terbaru dari kitab tersebut, yang diterbitkan oleh Dar al-Kutub al-‘Ilmiyah, Beirut pimpinan Muhammad Ali Baidhun yang melakukan kekeliruan dalam penulisan nama penyusun, yaitu dengan nama Syekh Ahmad Zaini Dahlan, ulama Mekkah di abad ke-18. Hal ini, segera disikapi oleh Pengurus Cabang Istimewa NU Lebanon, dengan mengutus beberapa orang untuk melakukan klarifikasi pada tanggal 11 September 2009. Mereka, diterima langsung oleh Direktur Dar al-Kutub al-‘Ilmiyah, dan bertanggung  jawab atas kesalahan ini serta memohon maaf terutama kepada pihak terkait, seperti keturunan Syaikh Ihsan dan Nahdhatul Ulama. (disarikan dari NU Online, versi Arab)


*Artikel ini, sudah pernah di majalah "Nabawi", edisi 100, Darus Sunnah High Institute for Hadith Sciences, sebagai catatan dari jalan-jalan religi (Islamic Tourism), di kota Kediri, lebaran kemarin. 
Nampaknya, penelitian tentang tokoh-tokoh ulama dengan wasilah ziarah, menjadi menarik bahkan untuk tokoh-tokoh yang seolah-olah, terlupakan karena tidak diziarahi. Padahal, mereka adalah para tokoh, yang mewarnai khazanah keislaman, di Indonesia khususnya. Menarik bukan ?

Senin, 25 Februari 2013

Cinta Terlarang Elektron



Ditulis oleh Dewi siswanto pada 03-11-2012
Elektron duduk termenung, sesekali ia kayuhkan kedua kakinya agar ayunan bergerak perlahan. Ayunan yang sering disebut orbital merupakan tempat yang paling Elektron sukai. Jadi siapapun orang yang ingin menemukannya langsung saja menuju orbital. Walau demikian, tidaklah mudah untuk bertemu Elektron di sana. Tapi setidaknya orbitallah tempat kemungkinan Elektron melepaskan penatnya ketika ia berada di rumah atom.
“Mengapa aku selalu ingat Proton?” keluh Elektron seraya menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan.
“Apa yang salah dengan perasaan ini, tidak bolehkah aku tertarik padanya?” pertanyaan yang kesekian kalinya namun tak juga Elektron mengetahui jawabannya.
Elektron menatap jauh ke depan dan terhenti pada sebuah kamar yang biasa disebut nukleous. Tatapannya sarat dengan beban namun begitu tajam seakan ingin menembus dinding kamar dimana Proton berada.
“Seandainya aku adalah Neutron, pastilah hatiku sangat senang karena aku akan selalu dekat dengan Proton” gumannya lagi.
~ *** ~
Elektron tinggal di sebuah rumah mungil bersama dua saudara angkatnya. Para tetangga memanggil rumah mungil itu dengan sebutan atom. Elektron adalah anak tertua. Kelahirannya dibantu oleh om J.J Thomson pada tahun 1897. Semenjak dalam kandungan dia sering dipanggil dengan nama sinar katoda karena Elektron merupakan anak yang diperoleh melalui tabung sinar katoda dan perkembangannya selalu dipantau oleh om William Crookes. Setelah lahir, ia diberi nama Elektron seperti yang diinginkan om G.J Stoney. Beratnya ditimbang oleh om Robert Milikan ternyata hanya 9,11 x 10-28 gram.
Adiknya yang pertama bernama Proton. Kelahirannya dibantu oleh om  E. Rutherford pada tahun1906. Dia lebih gendut dibandingkan Elektron karena massanya 1837 kali dari massa Elektron yaitu 1,673 x 10-24 gram.
Pada tahun 1932, Elektron mempunyai adik kedua yang diberi nama Neutron. Om James Chadwick yang membantu kelahirannya. Dia hampir sama gendutnya dengan Proton karena massanya adalah 1,675 x 10-24 gram.
Walaupun mereka bersaudara dan tinggal bersama dalam rumah atom tetapi karakter ketiganya berbeda. Elektron paling tidak suka berada di dalam rumah. Baginya dunia terasa sempit jika hanya memandang tembok-tembok yang memisahkannya dengan dunia luar. Berkeliling di halaman rumah lebih mengasyikkan, Elektron dapat berjalan-jalan di taman, memandang bunga-bunga yang berkembang dan menghirup keharumannya. Saat pagi tiba, mentari akan menyusupkan kehangatannya sehingga Elektron semakin bersemangat untuk terus beraktifitas. Biasanya, Elektron akan bersepeda melalui lintasan yang disebutnya sebagai orbit. jika dia merasa lelah maka Elektron beristirahat dalam orbital. Keaktifan Elektron dianggap perilaku yangnegatif oleh keluarganya.
Lain lagi dengan kedua adiknya, mereka lebih suka di dalam kamar. Kamar itu mereka sebut dengan nucleus karena itulah mereka berdua dinamakan nucleon. Walaupun begitu, Elektron tahu jika Proton terkadang tertarik dengan aktifitasnya. Sehingga mereka sering mencoba bertemu untuk saling berbagi hati. Sedangkan Neutron dia sangat cuek. Apapun yang terjadi di dalam rumah atom, dia  netral-netral saja.
Bagi keluarga atom, sifat pendiam Proton merupakan sifat yang dianggap positif. Namun bagi Elektron, Proton mempunyai karisma yang membuatnya  terlihat sempurna dibandingkan Neutron. Adanya perbedaan karakter antara Elektron dan Proton membuat mereka saling tertarik. ketertarikan inilah yang membuat beban bagi keduanya karena semestinya itu tidak ada.
~ *** ~
“Aku mohon Proton, cobalah kamu mengerti perasaanku” kata Elektron.
“Maaf Elektron, tanpa kau katakanpun aku tahu perasaanmu karena akupun merasa demikian, tapi itu tak mungkin” jawab Proton setengah tersedu menahan tangisnya.
“Jikalau kita bersatu, maka takkan ada rumah atom lagi” lanjut Proton lirih.
Elektron terdiam, dia paham sekali tak mungkin Proton meninggalkan nukleous. tapi ia juga tak mungkin menghapus ketertarikannya pada Proton dengan mudah, Mengacuhkannya saja membuat rasa menjadi gundah. Apalagi harus jauh darinya, pastilah rindu itu ada. Rindu pada perhatiannya, rindu pada cerita manjanya, rindu dengan tatapan penuh rasa rahasia yang dalam.
“Ya sudahlah, biarkanlah perasaan ini tetap ada, toch aku masih bisa memandangmu meski tak mampu bersamamu” ujar Elektron kemudian.
“Kamu tahu Proton, hanya kaulah yang sering datang dalam mimpiku dan memang hanya menjadi mimpiku….” lanjut Elektron menegaskan apa yang dirasakannya selama ini.
Keduanya kini terdiam, diam oleh ketidakberdayaan akan sebuah perasaan yang entah kapan hadir diantara keduanya. Namun mereka paham, kebahagiaan tidak selalu harus menjadi satu tetapi saling mengingatkan ketika salah, memotivasi ketika lelah, memberikan nasehat bijak ketika gundah, semoga semuanya menjadi ajang untuk ibadah. Dari perbedaan inilah yang akan menjadikan mereka dalam satu-kesatuan di rumah atom sehingga mereka dapat menempati posisi, tugas dan fungsinya masing-masing demi berputarnya dunia yang indah.

Minggu, 30 Desember 2012

Kita dan Teori - Teori Anda: Mana Ekspresimu ??



Sudah lama sebetulnya, ingin menulis kembali sesuai dengan apa yang ada didalam hati. Menulis tanpa beban - moral, kehormatan, penghidupan ... yang penting tulis dulu.

Balada menulis, bagi yang memang punya keinginan kuat sebetulnya akan mudah, jika sentiasa dilaksanakan dengan tanpa menumpuk idealisme yang "muluk - muluk". Bayangkan, betapa banyak coret - coretan sederhana milik anak - anak yang mungkin belum genap 10 tahun, tapi sudah menjadi favorit banyak orang, seperti puisi - puisi atau cerpen - tentu ini tidak mengesampingkan jelas bagi mereka yang menulis penuh dengan pemikiran yang matang, ketulusan rohani yang bersih, serta kesesuaian dengan realita sekitarnya membuat tulisan itu tidak seperti teralienasi dari pemirsanya.

Ada banyak memang sekian dari tipe - tipe penulisan yang bisa kita amati, atau mungkin kita bisa mulai dari melihat kecenderungan penulis yang ada saat ini dengan berbagai macam caranya dalam mengungkapkan sebuah pemikiran, ide, suara hati, bahkan kegelisahan moralitas yang ada didepannya. Misalkan, ada penulis yang sangat teoritis dalam menuangkan idenya, dengan beragam referensi ilmiah yang semata - mata - hemat kami - adalah untuk memperkuat bahwa teorema yang disampaikannya memang mempunyai landasan yang kuat, bukan menjiplak tentunya, apalagi memanipulasi seperti yang banyak terjadi saat ini - dimana dalam menulis sebuah karya ilmiah banyak mengutip tanpa menyertakan sumber. Hal ini, bisa dimaklumi mungkin karena rendahnya keinginan kita dalam mengungkapkan sesuatu secara utuh lewat tulisan. Padahal, bukankah sebuah pemikiran yang besar itu, harus dimulai dari tulisan - tulisan pendek agar tersusun secara sistematis diakhirnya.

Ada lagi, penulis yang enggan mengangkat teori yang "mapan dan besar" namun mengungkapkan sesuatu lebih berdasarkan induktif - realis dengan melihat fenomena - fenomena yang ada disekitarnya baik dijabarkan secara faktual kemudian menangkap sisi - sisi yang perlu dikomentari, dengan mengeluarkan langkah - langkah "make a solution for this problem !!!", biasanya yang menulis ini, merupakan orang yang dekat dan pro dengan entitas itu, atau justru orang yang kontra sehingga bersifat kritis dalam melihat masalah itu. Tapi terlepas dari apa tendensinya, yang punya "gaya" menulis demikian punya kepekaan sosial yang baik dalam melihat masyarakatnya - dan semoga demikian.

Yang menarik, adalah yang melihat teori - teori besar dalam sebuah praktikal - praktikal atau fenomena - fenomena dalam masyarakatnya. Teori - menurut mereka dalam pandangan kami adalah sekumpulan teks yang punya dialog - dan memang seharusnya begitu - dengan keadaan masyarakatnya. Biasanya, inilah yang didalam tradisi Islam adalah "memahami realitas/mafhum al-waaqi", atau populer dengan pribumisasi Islam. Cara berpikir demikian, adalah menjadikan sekumpulan teori itu, tidak melulu jadi diskusi berat kalangan akademisi yang hanya duduk dibangku universitas, atau lembaga - lembaga pendidikan yang kian hari menjauh dari entitas masyarakatnya. Dalam prakteknya, penulis menganggap Gus Dur, adalah orang yang menggunakan cara menulis demikian. Jika, memperhatikan tulisan - tulisannya yang umumnya selalu berangkat dari peristiwa yang ada, untuk kemudian dibaca secara teoritis - aktif sehingga menghasilkan tidak hanya solusi jangka pendek, namun sebuah penyelesaian yang jangka panjang, bahkan mendahului masanya (menurut sebagian pakar). Maka dari itu, banyak tulisan - tulisannya yang tidak selesai secara solusi pada awalnya, namun akan diselesaikan ditulisan - tulisannya lain. Bahkan, dari sinilah sebetulnya teori akan membuktikan fungsionalitas dan kecocokannya dengan peristiwa yang ada. Teori itu, akan dimatangkan dengan olahan sang penulis yang senantiasa mengkaitkelindankan dengan problematika yang muncul. Bahkan, bisa juga teori itu "tewas" oleh pesatnya fenomena dan realitas yang ada sehingga tidak mampu berkancah dalam dunia yang sesungguhnya.

Akhirnya, tulisan pendek ini hanya menginginkan satu arahan, yaitu bagaimana saya, anda dan kita ketika melihat realitas itu melakukan langkah penyeimbangan antara pesan dari teori, dan cepatnya laju realitas yang tidak seluruhnya dianggap benar, bahkan "manut" saja tanpa dikritisi. Semoga, bisa menjadi awal yang bermakna, salam

Jakarta, 30 Desember 2012

Jumat, 14 Desember 2012

Duruus al-Diniyyah fi al-Dirasaat: Realita, Idealisme, dan Harapan

Pagi ini (dilihat 12 Desember 2012), kami melihat salah satu catatan kecil tentang keluhan seseorang selama kuliah di Fakultas ini, ya bagaimana ya fakultas yang punya sejarah kewibaan keilmuan Azhar, kini mencoba mandiri dengan tetap menggunakan mode dan gaya belajarnya - tapi praktis pada prakteknya lebih banyak menanggung beban moril dengan konsentrasinya sebagai Fakultas Dirasat Islamiyah (terj. Indonesia: Studi Islam - mirip mata kuliah pengantar di fakultas - fakultas UIN, terj. Inggris: Islamic Studies - sebutan untuk jurusan pengkajian Islam di Barat seperti McGill, Leiden, Ohio, Harvard, dan sebagainya). Praktis, dengan mode belajar yang dirubah sedikit dengan model presentasi ( yang masih jauh dari , karena sering antara yang presentasi dan yang mendengarkan sama-sama bingung ) serta para dosen yang terhormat yang sebagian tidak bersikap empati dengan keadaan demikian dan menganggap mudah, lebih jauh seringnya tidak masuk dengan alasan - alasan yang menurut kami lebih tepat sebagai penyepelean amanah, membuat kita perlu memikirkan krisis besar ini. Setidaknya, ada dua sisi yang mendasar yang perlu kita sadari sejak awal:

1.    bahasa, dengan diktat - diktat berbahasa Arab baik kontemporer maupun klasik membuat penguasaan bahasa menjadi harga mati bagi siapa saja yang punya "nyali" untuk bertahan dan ngilangi bodho (terj: memberantas kebodohan) untuk menguasai nahwu baik kaidah – kaidah mendasar maupun kaidah – kaidah yang luas (baik khilaf-nya, asal – usul bahasa, sampai penyerapan bahasa arab terhadap bahasa – bahasa lain). Kalau ini  , atau terpenuhi dasarnya, maka kalau punya keinginan yang kuat untuk mencari bidang – bidang lain, ada jalan yang selalu terbuka untuk kesana. Tapi, mulailah dari bahasa
2.    think outside from the box, istilah ini sebetulnya bisa diterjemahkan menjadi berpikir tidak seperti biasanya, karena sejatinya fakultas ini atau kita yang melihatnya akan menjadi naïf ketika menjanjikan baahwa jika lulus dari fakultas ini, maka akan hadir para kader – kader ulama (. Hal itu naïf, karena ulama adalah gelar sosial yang mana diberikan oleh masyarakat. Tapi, perangkat – perangkat keilmuan yang ada disini adalah qorinah (indikasi jalan) bahwa mereka yang belajar di sini, punya peluang yang lebih terbuka dalam memahami agama Islam secara seutuhnya, atau setidaknya bidang – bidang didalamnya yang telah menjadi sebuah susunan silabi turun temurun, bahwa Alim fi al-Din adalah orang yang menguasai Tauhid, Fiqh, Tafsir, Hadits, Lughoh al-Arabiyyah, Ushul Fiqh, dan sejenisnya yang kita kenal dalam pengajaran Islam. Berarti kita harus menyadari, dengan perangkat sedemikian banyaknya yang kita pelajari – kami pastikan tidak seluruhnya bisa dikuasai dalam 4 tahun, apalagi jika semuanya murni didapat dari kegiatan klasikal belaka.

Ini, menjadi sebuah kenyataan yang tidak bisa kita hindari, terlepas bahwa Dekan pernah menjanjikan bekerja di tempat – tempat tertentu (Kedutaan, Departemen, dan sebagainya) itu urusan lain. Tapi, keilmuan ini memang harus diterapkan, bersamaan dengan nushush al-qur’an wa al-hadits yang terbatas dan ribuan kitab – kitab ulama yang telah dan masih terus melakukan upaya pembacaan teks dengan berbagai macam pendekatannya – untuk kemashlatan umat, ingat adagium (sejenis kata mutiara, atau wise word) Ibn Rusyd al-Andalusi, An-Nash Mutanaahiyatun, wa al-Waaqi’ ghoir Mutanaahiyatun (Teks/Nash terbatas, sementara realitas (yang membutuhkan teks itu) senantiasa berubah/tak terbatas).
Dari, sini kita menjadi paham seharusnya bahwa fakultas ini punya keterkaitan panjang dengan teks, namun sangat membutuhkan penerpannya di dunia nyata. Munculnya fiqh, ilmu kalam, kemudian Ushul Fiqh, sampai Kaidah – kaidah fiqh adalah sebagai bukti bahwa al-Qur’an dan Hadits senantiasa melakukan interaksi dengan pembacanya, terlepas dari konflik yang muncul dari sana berupa pengkafiran, dicap sesat, munculnya kritik antar ulama dengan muncul berbagai kitab yang saling memberikan masukan antar mereka, tidakkah menjadi perhatian kita. Sementara, semakin hari kita dihadapkan oleh realitas yang berubah – rubah, baik itu sesuai dengan pesan dari Nash tersebut, ataukah bertentangan sehingga butuh pertemuan dua sisi tersebut agar dicari kebenarannya.
****
Disana – sini, seringkali terdengar suara – suara miring tentang fakultas ini, disebabkan terlalu luasnya cakupan keilmuan didalamnya, satu contoh. Disisi lain, dengan sistem pemberian gelar, yang seperti sekarang dimana berdasarkan studi yang diambilnya (ada 3 konsentrasi akhir, Ushuludin, Syariah, dan Bahasa) segera menjadi pertanyaan dimana fakultas – fakultas keagaamaan lain yang telah tersusun konsentrasi masing – masing, apakah dengan adanya Fakulaltas Ushuludin tidak cukup untuk mencetak S.Ud sehingga, Dirasat memberikan gelar yang sama, begitu pun gelar lainnya. Dan bersama itu, ada suatu aspek yang sering dilupakan oleh banyak dari kita, yaitu kesadaran membaca dan memahami secara berkala. Semoga, terkaan ini tidak menjadi benar, mengingat serba praktisnya cara pandang di masa kini (bukan pragmatis, tapi menjadi sebuah keyakinan  pragmatisme).
Secara faktual, susunan keilmuan di Dirasat memang mengikuti betul silabi pendidikan Islami, yang tradisionalis. Dalam arti, hampir dipastikan kita tidak mendapati masukan – masukan modernis, diluar frame “Islami” dalam tafsiran al-‘aql al-islami. Praktisnya, kita tidak mendapati buku – buku diluar bahasa Arab, sebagai arus dominan bahkan mutlak secara formal namun sosialita kemahasiswaan yang ada malah menggunakan terjemahan bahasa Indonesia sebagai “alat bantu” untuk memahami ragam keilmuan dengan bahasa asing tersebut, yang mana bukan menunjukkan sikap antipati terhadap buku terjemahan, tapi dengan kita punya saham besar dalam memahami bahasa arab, bukankah lebih baik mengesampingkan terlebih dahulu terjemahannya, dan mencoba memahami teks aslinya melalui pembacaannya lebih lanjut secara terus menerus, terlepas dari sesuaikah teks terjemah tersebut dengan pesan asli (bukan harfiah, karena menerjemah itu bukan arti teks, tapi kesinambungan makna didalamnya).
Dengan segala kejanggalan dan disana – sini yang membutuhkan perbaikan. Tidakkah menjadi lebih baik kalau kita membaca kembali dengan baik, atau mengembangkan secara terus menerus duruus al-diniyyah wa ma yat’allaq bihaa, serta secara bertahap meninggalkan kegiatan – kegiatan yang seringkali mengantarkan kita kepada penumpulan sikap kritis, dan lebih memilih senang dalam kenyamanan yang semakin menjauhkan kita dari kebenaran. Teringat sebuah kaidah terkenal yang diikutsertakan dalam qowaid al-fiqhiyyah : al-Isytighol bighoir al-maqshud, al-I’radh ‘an al-maqshud (menyibukkan dengan sesuatu yang bukan dituju, adalah sebuah pelarian dari tujuan itu). Semoga, tulisan ini menjadi sebuah langkah awal (untuk yang nulis) agar tidak santai – santai dan menyadari bahwa pentingnya bangkit dari kebodohan. Dan (bagi pembaca lainnya) menjadi bahan pertimbangan, atau otokritik, pelontar semangat kembali, atau bahkan menjadi sarana munculnya bantahan dari tulisan ini. Yang jelas, niatan yang baik tentu mempunyai porsi tersendiri dimata Tuhan, bukan ?.

Ciputat, 14 Desember 2012

Senin, 19 November 2012

Mencari titik temu makna “shohabah”


 (Pembacaan Skripsi Ust. Ahmad 'Ubaidi Hasbillah : “Pergeseran Makna Shahabat Abad ke I -  IX H”)
    Kesan yang pertama kami dapatkan ketika membaca skripsi adalah adanya “peluang” untuk menerima nushush al-haditsiyyah (teks – teks bertemakan hadits) secara lebih lapang dari sebelumnya. Karena, sejak awal memang pendefinisian shahabat dikalangan muhadditsin sendiri terdapat perbedaan pendapat yang cukup beragam. Misalnya saja, seperti yang dikemukakan Ibn Sholah:
أن كل مسلم رآه من المسلمين فهو من أصحابه
    Dan pendapat demikian pada kenyataanya memang banyak digunakan oleh para ulama, yang mempunyai kecenderungan kuat terhadap hadits, dalam arti memberikan peluang yang besar dalam penerimaan hadits. Namun, deskripsi makna ini dijabarkan lebih luas didalam skripsi ini, dengan poros utamanya adalah perbedaan makna shahabat dari masa ke masa, sampai “tarik menarik” definisi shahabat antara muhadditsin dan ushuliyyin.
    Sisi lain yang menarik, dicermati adalah mengapa para ulama membutuhkan pembukuan akan berbagai macam tarjamah (profil) para sahabat pasca wafatnya khulafaa’ al-rasyidin dan taabi’in. Sementara dibeberapa buku – buku sejarah kekinian, sering menganggap sejarawan sebagai “penulis setia khalifah” , sehingga tidakkah muncul kekhawatiran melakukan distorsi atau mengeliminasi sebagian sahabat melihat dari pernyataan Imam Suyuthi, misalnya yang menyatakan jumlah sahabat mencapai 100 ribu orang, sementara Abu Zur’ah al-Razi menyatakan berjumlah 114 ribu orang , sementara yang tercatat hingga saat ini tidak lebih dari 10.000 orang.  Artinya, hal yang masih menggantung adalah kemanakah setidaknya, 90.000 orang yang diklaim sahabat sehingga, sampai tidak tercatat didalam kutub al-tarajum (ensiklopedi profil – profil sahabat) – dan dalam pembacaan kami, terhadap penelitian didalam skripsi ini, berpendapat senada akan “kegamangannya” pendefinisian sahabat, disebabkan dari  berbagai macam kitab mushtolahaat banyak mengangkat pendapat yang sama dengan sebelumnya, dan hal itu terus terjadi sampai abad ke 8 Hijriah. Ditahun setelahnya al-‘Alaai , melakukan redefinisi ulang tentang pemaknaan sahabat, dengan tidak hanya bersikap kritis terhadap para ulama yang cenderung kepada definisi muhaddits, namun juga terhadap definisi ulama ushul yang cenderung ketat dalam mendefinisikan sahabat . Hal ini, semakin diteruskan oleh beberapa peneliti hadis ‘Ala al-Din bin Qalit al-Mughlatay, yang berhasil menuliskan 1203 nama sahabat yang dianggap bermasalah oleh ulama sebelumnya (hal. 43)
    Yang jelas menurut kami, pembacaan akan siapa sebenarnya sahabat itu memang semestinya menggunakan perspektif kesatuan masa dan pernahnya bertemu. Artinya, hak – hak untuk dikatakan sebagai sahabat yang berarti menggunakan sudut pandang Rasul, bukan sudut pandang orang yang pernah melihat (karena didalamnya akan masuk orang yang semasa namun munafik apalagi kafir, orang Islam yang melihatnya saat pemakamannya,  dan orang yang  baru lahir dimasa nabi wafat, serta orang yang hanya semasa namun tidak pernah sekalipun melihat Rasul ). Lebih jauh, benarlah penghitungan yang dilakukan Abu Zur’ah al-Razi yang menyatakan jumlah 114.000 pada sahabat, dengan mengklasifikasi dari sahabat yang ikut serta haji wada’ (70.000 orang), yang ikut serta perang Tabuk (sekitar 40.000 orang). Hanya saja, mungkin dua hal yang didapatkan disini yaitu pergeseran makna sahabat yang diangkat disini, lebih cenderung kepada bahasa yang diangkat oleh para muhadditsin diabad ke - 9 (yaitu Ibn Hajar al-‘Atsqolani, dan Imam Suyuti) dan belum mengangkat tentang perbedaan pendapat dari para sahabat, dan bagaimana langkah – langkah politis untuk meraih kekuasaan yang dilakukan Mu’awiyah bin Abi Sufyan dan para pendukungnya, dan bagaimana para sahabat yang bersikap menentang Ali bin Abi Tholib, akan kelonggarannya menerima tawaran  arbitrase Mu’awiyah bin Abi Thalib, hal – hal tersebut pernah kami dapatkan pembahasannya dari sebuah buku tulisan Gamal al-Banna, yang diterjemahkan kedalam bahasa Indonesia dengan judul Manifesto Fiqh Baru. Hal kedua adalah, siapakah sesungguhnya nama – nama sahabat yang tidak terklasifikasi dalam kitab tarajum, dan apakah tidak ada riwayat lagi yang menyebutkan keseluruhan nama -  nama tersebut yang jika ada, maka tidak itu berpeluang bahwa mereka (yang tak tercatat itu) mempunyai riwayat  juga, Wallahu A’lam.

Senin, 23 Juli 2012

Ngaji Rihlah Cisarua - untuk kelas a FDI


Kami hanya bisa menulis review yang singkat sesungguhnya untuk mendeskripsikan, aneka warna dan ragam yang kami amati tentang rihlah kelas yang dilaksanakan di Villa Kembar, Cisarua pada tanggal 4 – 5 Juli lalu. Dimulai dari perjalanannya, yang membutuhkan waktu yang lebih lama dari kesepakatan. Hal ini sebetulnya sangat bisa dijadikan titik pertanyaan yang mesti dijawab, yaitu kenapa terlambat untuk hal – hal penting (mungkin yang tidak penting juga begitu) menjadi suatu hal yang terulang, bahkan jadi budaya ?
Sisi lain lagi, sejak sebelum keberangkatan beberapa kawan sudah menyatakan untuk tidak ikut dengan alasan – alasan yang tidak bisa tertolakkan lagi, seperti tidak diizinkan orang tua, sudah ada jadwal acara terlebih dahulu sehingga berbenturan, dan sebagainya. Namun, yang sulit diterka adalah ketika sampai jelang hari H, tidak ada jawaban yang jelas apakah akan hadir atau tidak. Tapi, ya pada prakteknya pun hanya satu orang yang seperti itu. Ada pula, yang secara tiba-tiba membatalkan dengan kepentingan yang tidak bisa diganggu gugat ungkapnya. Ya sudah, Likulli Ra’siin Ra’yun, ungkapan yang belum lama ini kami dengar dari salah satu kawan.
Dengan perjalanan yang kurang lebih memakan waktu 2,5 jam itu tibalah kami di villa tempat kami akan menginap. Kemudian, setelah itu semua barang – barang logistic, terutama makanan karena sudah direncanakan sejak awal untuk memasak. Namun, setelah itu semua selesai sebagian lebih memilih untuk relax dan bermain – main santai. Sebagian ada yang berkonsentrasi untuk menghafal juz 2, karena ada yang belum taqdim hafalan dan diminta mengulang kehadapan ust. Willy Oktaviano, pembimbing tahfidz di FDI untuk semester 2 (patut dicontoh nih, tetap menghafal kapanpun, dimanapun). Sebagian lagi ada yang bermain di halaman. Dengan disediakannya kolam renang, ayunan, jungkat – jungkit (dua yang terakhir, inget taman kanak – kanak), sebagian terutama laki – laki lebih memilih bermain bola. Ada juga yang sibuk mengambil foto dari berbagai sisi. Ya mungkin, karena di Ciputat gak ada gunung ya hehe, tapi memang alamnya yang sejuk sangat cocok untuk meregangkan syaraf – syaraf dan relaksasi jiwa pasca Imtihaan al-nihaai al-diraasi.
               Ada sisi lain yang hampir terlupakan, ternyata beberapa teman begitu melihat sound system beserta beberapa keping CD lagu, segera mereka mengambil dan menyanyi. Ada 3 orang yang sepertinya menghayati betul, Aqoy, Bahrudin, Seniman (kalau yang ini wajar, sebelum rihlah sudah pernah menyatakan akan membuat boyband, dengan ia sebagai vokalisnya ---> ada yang aneh dari kalimat ini, sila dicermati). Kalau yang kedua, walaupun sosoknya besar, dan persepsi pertama orang akan mengira ia garang, tapi………. (ikuti terus ceritanya ya…). Kalau Aqoy, subjektivitas kami hanya bisa menilai bahwa dia punya berbagai sisi kehidupan, tapi ia tidak pernah kehilangan identitasnya (yak, semoga memang seperti itu, amin….). Tapi, yang dinyanyikan adalah lagu – lagu galau, sehingga atmosfer galau itu menyeruak keseluruh ruangan (yang ini bahasanya terlalu sastra, tapi tidak apa2), dan akan lebih lanjut terlihat dicerita selanjutnya…. Ikutilah terus !
               Setelah masuk ashar, dimulailah pembukaan acara rihlah tersebut. Dimulai, dengan pengutaraan susunan acara yang disampaikan oleh kang Fachru, sebagai seksi acara (seperti apa acaranya, ikuti terus tulisan ini……. Okey !). Kemudian, dilanjutkan dengan sambutan oleh Seniman, selaku ketua panitia. Dengan menggunakan pecinya yang khas, ia memulai dengan mengucap syukur atas terlaksananya acara ini. Sedikit juga ia menguraikan tentang beberapa teman yang tidak bisa ikut, dengan alasan – alasan yang tidak jelas, sehingga sungguh disayangkan dan semoga tidak seperti itu di acara mendatang. Kemudian, sambutan dilanjutkan oleh Rais al-Fashl (A) Zul Fajrudin. Kami, sedikit lupa apa inti dari sambutannya tersebut namun ia lebih menekankan semoga majelis persahabatannya ini menjadi semakin erat dan diisi selalu dengan kebaikan. Pokoknya, sambutannya “dalem” sekali, layaknya seorang kyai yang hendak menyampaikan wejangan kepada santri – santrinya.
               Pembukaan singkat itupun selesai, dan acara terus cair sampai jelang maghrib. Sebagian, ada yang kembali asik dengan kolam renang (maksudnya berenang gitu). Sebagian, terutama kalangan ummahaat sedang sibuk didapur menyiapkan makanan. Mulai dari ngulek sambel, masak nasi, dan lain – lain sehingga rembangnya matahari sore diiringi dengan kesibukan ibu – ibu di dapur. Yang laki – laki, sebagian ada yang membantu, ada juga yang memperhatikan dengan serius yang sedang masak (mungkin sedang membayangkan, kalau punya al-zaujah begini, benar – benar mendukung untuk pengembangan proyek keluarga sakinah…..lho kenapa jadi kesana pembicaraannya ya).
               Maghrib pun tiba, catatan menariknya adalah hingga jelang maghrib ada rencana slide yang hendak ditayangkan dengan muatan beberapa survei tentang kategori – kategori unik yang ada di kelas A. Namun, dengan bantuan Hudori yang memang bersama kami berbagi tugas untuk mengerjakan slide itu, terselesaikanlah walaupun hemat kami belum sepenuhnya memuaskan. Tapi, sisi menariknya walaupun kami mengakui pengerjaaannya cukup lambat, namun ketika mengerjakannya pun, kami sudah merasa menjadi sebuah hiburan karena banyak menelusuri foto – foto di kelas A, dengan kaidah aqbah al-shuurah, sehingga ketika mendapatkan ekspresi teraneh dari sebuah foto segeralah itu menjadi sasaran utama (sehingga jangan marah ya, tidak ada maksud menghina sama sekali tapi kami dari tim kreatif tetap memohon maaf kalau ada yang kurang berkenan). Okey, setelah itu kami semua melaksanakan sholat maghrib berjamaah, dan sangat beruntung sekali ternyata malam itu bertepatan dengan malam nishfu sya’ban. Sejak awal, memang sudah disepakati untuk mengadakan pembacaan yasin sebanyak 3 kali, seraya berdoa memohon pengampunan dimalam yang diyakini akan dicatatkanlah jumlah dari amal – amal kita selama setahun (dalam bahasa lain, tutup buku amal perbuatan (catatan: butuh pengembangan lebih jauh: 1. Studi sanad, 2. Fiqh al-hadits, 3. Istidlaalaat al-hadits).
               Sampai selesai waktu ‘isya, kami melaksanakan sholat secara berjamaah setelah itu tibalah waktu untuk makan malam. Dan special dimalam tersebut, dengan masakan sendiri oleh sekelompok ummahat kelas A. Hal ini sangat menumbuhkan suasana kekeluargaan dan kebersamaan, contoh kecilnya adalah masing – masing mengetahui siapa yang makannya banyak atau tidak. Tapi, itu menjadi tidak penting, karena mungkin “saking semangatnya” memasak sehingga porsinya banyak sekali, hatta tercecer akibat tidak begitu banyak yang makan --> intabih haadza, laa tukarrir marrah ukhroo
               Jam 20.30, acarapun dimulai. Sudah sejak awal, direncanakan untuk mengadakan acara yang dinamakan Class A Awards, namanya sih keren tapi semata -  mata sebagai gambaran factual dari peristiwa – peristiwa yang khas di kelas sehingga menarik untuk diperbincangkan (kayak acara yang kalimatnya: “setajam…….silet” lhhoo). Dimulai oleh MC oleh Enzhe (tidak ada catatan yang jelas nama ini muncul, awalnya adalah akronim dari Nurjaman --> NJ, mungkin untuk memperkuat suasana lahajat, maka berubahlah menjadi demikian) yang memang sudah langganan ngemsi sejak 6 bulan terakhir untuk event – event di kelas kami. Acara semakin membuat penasaran ketika muncul 11 nominasi yang mulai memancing gelak tawa. Dan dipilihlah nominasi pertama yaitu Anaa min al-nawwaamiin, yang diterjemahkan secara bebas menjadi “mahasiswa paling rajin tidur” (hehe, memang tidur termasuk kategori rajin yaa…..???/!?!!?). Setiap jenis nominasi, terdiri oleh tiga kandidat yang keseluruhannya telah diseleksi berdasarkan 3 urutan terbesar dari pilihan kelas. Nah, untuk bagian ini terpilihlah 3 orang sebagai nominasi nawwaamiin (tidak menggunakan Naaim¸ yang merupakan shighoh Ism al-Faa’il, namun menggunakan jenis Nawwam, satu dari empat jenis shigoh mubaalaghoh, yang mana digunakan untuk Naaim, sangat “mengena” sekali. Dengan responden, kurang lebih sekitar 29 orang, muncullah beberapa nama terkuat seperti Tholhah, Bahari al-Wasii’, dan Masrur Irsyadi (still smile… when type those words). Dan melihat kandidatnya, sepertinya masing – masing punya kans kuat untuk menang. Benar saja, setelah dilihat ternyata persaingan suaranya sangat ketat, dan dimenangkan oleh Masrur dengan 12 suara, disusul oleh Bahari dan Tholhah masing – masing 8 dan 7 suara. Kami akan mendeskripsikan dan mencoba menganalisis mengapa kandidat pertama yang menang, mengapa ? karena pemenangnya adalah yang menulis kisah ini. Ya sederhana, karena yang pertama ini sejak semester satu dikenal memang dikenal istiqomah tidur saat kuliah di jam – jam rawan, juga dimata – mata kuliah yang disampaikan secara monoton, kami sangat ingat seperti mata kuliah ‘Ulum al-Qur’an, ‘Ulum al-Hadits, Civic Education, Tajwid (banyak amat….). Tapi, sejujurnya sih, bukan apologi alias membela diri juga tapi, intensitas itu sudah dikurangi sejak semester dua karena ingin sebetulnya bertaubat dari budaya jelek ini (istajiib du’aanaa Ya Robbii). Tapi, beberapa pendapat kawan – kawan menyebutkan demikian, jadi biarkan saja ya. Jargonnya adalah an-Naum yuaddii ila al-barakah[1].
               Ok, nominasi kedua, dipilahlah karena kami sebagai pemenang maka kami memilih nominasi the-galau-est people. Benar saja, kandidat yang telah lama diperbincangkan itu akhirnya menang, Bahrudin al-Indramayuwi (nisbatan ilaa ashlihi) al-Bakasi (nisbatan ila manzilihi) al-Galawi (laqoban likatstratihi…. Hehehe). Dengan kemenangan yang nyaris mutlak, perolehan 21 suara itu bagi kami hanyalah taukid bagi manuver – manuver statusnya yang romance, tapi galau (untuk statusnya seperti apa, sepertinya tidak perlu diterangkan ya, karena kedudukannya menjadi tahshil al-haashil). Pemenang yang menyatakan sebagai mutaabi’ FPI ini selalu dikenal dengan status – statusnya yang tidak jauh – jauh berkisar tentang……. cinta. Pernah suatu saat, ia mengakui secara langsung bahwa………………. (lanjutkan sendiri saja ya).
               Kami, sudah lupa urutan – urutan penyebutannya karena dipilih secara acak. Yang jelas, ada nominasi wanita tomboy, nah yang ini pemenangnya Zakiyatul Mahmudah alias d’Zaky Averroez alias Ahmad Zaki (nama yang terakhir, ada kisahnya, bersabarlah). Kami sendiri tidak begitu tahu, mungkin karena memang gayanya yang tomboy, cuek (gak juga sih, tipe ini juga banyak), dan galak (‘indii qolill, lakinn ‘inda al-aakhoriin laa adrii). Tapi, percaya atau tidak ternyata ia seorang pekerja keras juga, terutama dalam urusan menghafal, dan ternyata diam – diam dia adalah pakar nahwu juga, terutama di kelas A. Jadi, tomboy itu hemat kami hanya tampilan luarnya saja, bahkan kalau yang jeli melihat televisi dan memperhatikan beberapa tokoh muda NU, mungkin pernah dengar nama Zuhairi Misrawi yang sering berbicara soal politik timur tengah, isu Islam di Indonesia, dan lain – lain. Aktivis Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (Lakpesdam NU) ini ternyata kakak iparnya (pertama tahu, langsung terkesan), dan ternyata ia memang sengaja merahasiakan (pengumuman-pun mungkin apa pula manfaatnya……hmmm...).
               Nominasi lainnya masih ada sekitar 9 lagi, seperti the lebay-er (bahasa Inggris daerah mana ini….. aah haadza min al-lahajaat), ronaldo-wati, watados (akronim dari Wajah Tanpa Dosa - sok tau banget), kecil – kecil “Cabe Rawit”, Dosen Style, Kau Yang Terzalimi – Tergosipi, Kaulah Bundaku, dan The Best Couple (yang terakhir harusnya gak perlu nominasi, sudah mafhum biduuni al-tafshil wa al-tabayyun lakiin li al-taukid wa al-taakkud min fushuulih -à tapi nanti ada ceritanya kok, diusahakan !!!). Lebay-er secara dimenangkan oleh Muhammad Abdul  Halim Zuhri alias Halim (qoola qowmun: Bung Halim, qiila: Mas Halim). Dengan mengalahkan beberapa nominasi lainnya seperti Muhammad Nurjaman alias Enzhe sang eMCe, dan Muhammad Shofiyullah Mahmud (laqobuhu Ochest à nyambung gak ???, tapi sudah lama dipanggil seperti itu katanya, bawaan dari pondok). Berhubung waktu itu Bung Halim tidak hadir, karena ternyata sedang mengikuti dauroh (catatan: ane belum paham betul makna istilah ini, yang tau segera kasih masukan ya) Universitas Islam Madinah di Ponpes Darunnajah, Ulujami  - Jakarta Selatan (kalau benar – benar lolos, semoga selalu berkah dalam mencari ilmu bung). Lebih focus, kenapa harus dipilih Lebay-er, mungkin dilihatnya dari segi lenggak – lenggok, gak sih. Mungkin juga, dari sisi, apa yaa…. Bicaranya itu lho kadang suka muncul  rusuum al-nisaaiyyat (gambaran-gambaran kewanitaan), tapi  untuk hal ini kami selalu yakin ia tidak begitu, ya sudahlah… likulli ra.siin ra’yuun.
               Ronaldo – wati, sebetulnya hanya akan mudah dinilai kalau anda adalah para penghuni aspi (Asrama Sepi, eeh bukan2. yang benar  ”Asrama Putri”). Karena beberapa nominasinya misalnya, Tria Farhanah (ista’mil haa fii aakhiri, sepertinya dalam dialektika gramatika sunda/tinggi banget ngomongnya penambahan konsonan diakhir nama merupakan salah satu dari sekian mazaayaa bahasa Sunda, seperti pengulangan akhir suku kata, contohnya: Denden, Dadang, Iing. Dan masih banyak lagi, perlu diteliti juga nih, keren….), Aqoy Qoyyimah (tuh, sunda lagi), dan Zakiyatul Mahmudah. Tapi, ternyata pemenangnya, sesuai dengan perkiraan adalah yang pertama yaitu Tria Farhanah. Ketika memberikan sambutan pada malam itu, atas kemenangannya ia hanya mengungkapkan bahwa senang saja dengan permainan sepakbola, okey kalau begitu tapi ternyata tim lantainya di ASPI, pernah juara dalam kompetisi antar lantai di ASPI, okey2.
               Watados, nominasi yang untungnya semua yang menjadi kandidat kuat tidak hadir, ya mungkin tidak hadir pun tidak berdosa, ya. Watados adalah singkatan “wajah tanpa dosa”, tidak jelas dan tak terlacak sepengetahuan kami dari mana istilah itu berasal. Namun, sisi lain tidak ada deskripsi yang jelas tentang istilah ini. Tapi, dengan melihat nominasi plus pemenangnya mungkin langsung bisa menjawab kenapa demikian. Sekian nama yang masuk dalam nominasi pada kategori ini adalah Muhammad Yusri, Bahari al-Wasii’, dan Halim (masyhur bilaqb “Bung Halim). Namun, karena tidak satupun dari ketiga nama tadi yang hadir, kami akan berfokus pada nama pertama (kenapa ? karena dia yang menang, simple..kan). Bagi kami, pada awalnya ia dikenal sebagai orang yang pendiam, namun berusaha memperhatikan apa yang diamati di pergaulan – rupanya ia sangat pemalu, dan enggan berbicara. Bahkan, sangat menyedihkan jika ternyata ia tidak bertanya sedikitpun tentang hal – hal penting dalam kuliah, seperti jumlah SKS dan sebagainya. Tapi intinya, sosok yang menurut akhinaa Miftah, yang mana ia menyampaikan info ini muttashilaan ke ane (hal ini: masrur) dalam obrolan santai di Bis yang membawa kita ke Cisarua, bahwa ia ternyata sudah hafal bait Alfiyah[2], sebuah prestasi besar dikalangan santri kalau sanggup menghafal bait – bait Ibn Malik al-Andalusi (appendiks: ada kisah, mungkin ini budaya di pesantren bahwa Kyai tidak segan – segan untuk mengawinkan anak putrinya kepada salah satu santri yang berhasil menghafal 1000 bait tersebut, so apa yang akan anda lakukan para pembaca yang mungkin sudah, atau sedang, atau baru ingin menghafalkan 1000 bait yang berisi tentang qowa’id al-nahwiyyah, silahkan dipikirkan sendiri !). Sehingga, mungkin wajah bisa menyiratkan perkataan – perkataan tak sedap, tapi sisi – sisi dalam seorang Yusri (Muhammad Yusri) perlu pembacaan lebih jauh. Jadi, jangan pernah patah semangat, dan mematahkan semangat orang lain !.
               Nominasi lainnya misalnya kecil – kecil “Cabe Rawit”, penghargaan bagi mereka kaum minimalis (oooh, salah2 ya), maksudnya yang secara fisik kecil, namun punya semangat dan gaya yang kuat seperti tukang “Cabe Rawit”. Kalau bagian ini, sebetulnya tanpa perlu survei pun, sudah bisa diperkirakan. Yak, Musfiroh alias Muzviee ini memang dikenal dengan langkah – langkahnya yang pedas, tapi sebetulnya punya rasa penakut yang besar tidak bisa dinafikan juga (sorry ya mpiee,,,, hehehe). Dengan perolehan grafik yang sangat tumpang, dengan hampir 21 suara, dan beberapa nama masing – masing seperti Iliyun, dan Miftah hanya mendapat satu suara. Remaja asal Banten ini (kayak yang iya aja, kalimatnya hehehe) mungkin dinilai dari gaya berbicaranya yang ceplas – ceplos, riweeuuh (ini bahasa apa ya, tolong diterjemahkan…), dan statemennya yang aplikatif --> untuk menggetarkan hati orang, membuat ia dinilai demikian (dalam analisa kami, tapi mungkin saja salah). Harus mendeskripsikan apa lagi ya ? ya sudahlah, pokoknya selamat buat Muzviee semoga menjadi anak yang sholihah, amiin.
               Masih ada yang belum terbahas rupanya, ada Dosen Style, perlu diingat style is first step to be known about someone, as long as you know. Tatanan dekil, segera mencerminkan kesan awal bahwa ia adalah seseorang yang jarang merawat kondisi tubuhnya, sehingga kesimpulannya “penampilan adalah, kata – kata pertama yang segera bercerita tentang keadaan siapapun. Nah, kembali pada dosen style, beberapa nama yang telah masuk nominasi diantaranya rois al-qoum fii fashlinaa Dzul Fajruddin, lalu Bahari al-Wasii (belakangan sekarang ditambahkan al-Jamily Sukses, mungkin maksudnya sebagai orang yang tampan, dan juga sukses --> tapi sok tau lah, silahkan beliau langsung yang menjelaskan) dan kembali, Bung Halim walaupun suaranya ternyata berimbang dengan Yusri. Ok, singkatnya Dzul pun menang, dengan perolehan 10 suara, disusul dengan Bahari dengan 8 suara. Persaingan yang ketat ini, dalam urusan penampilan mungkin bisa diambil dari beberapa hal, karena Dzul adalah tamatan Pondok Modern Gontor, serta Bahari adalah pesantren yang “sepemikiran” dengan Gontor. Dalam sambutan atas kemenangannya (ini serius banget bahasanya) ia menyatakan bahwa ini adalah karakter yang diajarkan oleh Pesantren. Sementara saudara Bahari, sebetulnya adalah orang yang santai dan baru beberapa bulan terakhir saja mulai kembali berpakaian yang necis sekali. Alasan sederhana, bahwa karakter orang sukses juga dibangun dari cara berpakaian, sebuah pesan dari MLM. Ya, karena ia sedang semangat menekuni bisnis MLM Melia Nature Indonesia yang menekankan pada produk Propolis dan Melia Biyang. Ya, semoga berhasil dengan usahanya, walaupun jujur entah karena kurang memahami, atau lainnya kami masih enggan untuk berkecimpung di dunia seperti itu, dengan melihat kebutuhan dari produknya, dan pertanyaan kami sejak dulu adalah mengapa MLM sering mempromosikan produk yang “bukan kebutuhan utama” tetapi dipromosikan dengan sangat luar biasa, dan dalam system tersebut “karakter sukses” itu sangat dibangun sehingga terbangun semangatnya (silahkan Bung Bahari yang menjawab….. hehehe). Kembali pada pendapat yang menang, sebuah pendapat yang bagus memang, tinggal hemat kami bisakah dengan shurah orang yang rapih, necis, sehingga menunjukkan kesan sukses itu sesuai dengan langkah – langkah akademis dan pengamalan aplikatif yang telah diajarkan, waktu dan keinginan kitalah yang menentukan.
               Nominasi lainnya masih ada, Kau Adalah Bundaku, kalau ini jelas perempuan ya – pemenangnya pun sebetulnya dipastikan adalah Nur Hamidah, lebih akrab disapa oleh sebagian besar kawan – kawan Ka Hamidah. Tapi, ternyata suaranya itu hanya selisih satu dengan Mbak Anis Afifah, disusul dengan Khaulah (kalau ini sih, sebetulnya masih muda tapi omongannya yang dewasa membuat ia juga dituakan), dan Is Is ‘Izzatul Mu’minah (Ini juga keren, kekuatan ingatannya bagus sekali, orangnya pun easy going dan bisa cair dengan siapa saja). So, kedewasaan seseorang berbanding lurus dengan besar badannya (lho…), tapi sepertinya tidak juga karena dari beberapa kabar yang kami ketahui, memang keduanya adalah sosok yang paling mengayomi kaum hawa, ya setidaknya sebagai teman curhat, dan memberikan masukan – masukan bagi yang lain. Tapi, untuk Ka Hamidah al-Hafidhah (kalau pengakuannya sih belum hafidh, karena masih sisa 3 – 4 juz lagi yang belum hafal) sebagai pemenang, kami (kali ini Masrur) memberikan kalimah al-tahniah wa al-ihtiraam afwaq al-faaiqoh dengan melihat semangatnya dalam mengerahkan diri sendiri, serta mengajak yang lain untuk ikut serta dalam belajar, karena hampir setiap ada musykilaat dalam belajar, dan jika ada waktu senggang ia selalu menghubungi siapapun yang dianggap kompeten untuk mengajarkan materi – materi tersebut, bahkan yang santai – pun akhirnya terbawalah arus – arus yang dibawa ka Hamidah, dan semoga senantiasa demikian, karena bukankah mendapatkan teman yang selalu mengajak kepada kebaikan merupakan hidayah dari Allah !, dan untuk Mbak Anis yang selalu tersenyum, dan tidak pernah marah ini yang ternyata seorang yang cerdas dalam akademik, ooh syuf haadza harus ditularkan yang mbak, kepada yang lain semangatnya,  Ok mbok (enakan dipanggil mbok, gak apa-apa ya) !!.
               Nominasi lainnya adalah Dia Yang Terzalimi, tapi untuk lebih santai digantilah tergosipi (padahal gosipin orang itu bagian dari kezhaliman juga ya, Astaghfirullah al-‘Adzim). Yang dikategorikan masuk nominasi adalah Fairuz Hakimah (feeling ane sih dia yang menang), Khaulah Mujahidah Fillah, dan Musfiroh (kenapa perempuan semua yaa…), sebetulnya masih ada Hudori, Zakiyah, dan Halim serta Seniman. Masing – masing dengan perolehan 13 suara, 4 suara, 2 suara, 2 suara, 1 suara untuk 3 nama terakhir. Jadi, benarlah Fairuz Hakimah (waktu menang itu, di slidenya yang diedit saudara Hudori, fotonya diambil dengan ekspresi yang benar – benar tidak menguntungkan, tapi sangat pas dengan kondisi sebagai pemenang terzalimi, jadi mohon maaf ya, jangan diambil hati, teman saya memang begitu…… lhoo). Awalnya, kriteria tergosipi itu ketika banyaknya digosipi dekat dengan lawan jenis misalnya, berarti kesimpulannya…………………… (lanjutin aja sendiri ya, kami kehabisan kata – kata). Tapi, tetap semangat buat pemenang, semoga besok tidak terpilih lagi (kalau gak ada nominasi itu).
               Nah, ini yang terakhir The Best Couple (katanya lho, gak tau aslinya). Kami, sebetulnya merasa tidak perlu dibuat nominasi, karena pemenangnya sih sudah bisa ditebak. Yak, Miftah n’ Khaulah (khaulah lagi……) disusul oleh Hudori n’ Zaki, dan sederet nama – nama lainnya, namun hanya mendapatkan satu suara. Mungkin, sih memang benar kalau ada “sesuatu” (syahriniers) sehingga yang kami amati, kyai itu kalau sudah ngobrol sama Bu Khaulah itu, kayak salah tingkah gimana gitu. Tapi, hati – hati aja lah, setrum itu kadang – kadang suka mengeluarkan arus pendek akibat ada kabel yang rusak, atau tidak terpasang dengan baik (maknanya, sila tafsirkan dan renungkan sendiri). Kalau yang kedua, nampaknya hanya berita – berita yang syawaahid-nya tidak begitu jelas jadi segera menghilang dan tak ada kabar beritanya lagi.
               Syahdan, qod takhollashnaa di bagian Awards, acara pertama yang diadakan ini ternyata cukup mengundang gelak tawa, apalagi memang direncanakan untuk mengambil foto -  foto dengan ekspresi – ekspresi ghorib dan nadir. Kemudian, waktu yang telah menunjukkan jam 9.30 malam, dilanjutkan dengan menonton beberapa potongan film yang telah diedit. Dimulai dari perjalanan survey, menuju Cisarua . Sesi – sesi awal video ini memang banyak kesalahan istilah, terutama kasus saling memojokkan surveyor, dari komentar Che.che --> nama lain dari Seniman tentang sungai kota Bogor yang disayangkan sangat kotor, yang katanya sangat bagus kalau berwarna putih (putih, jernih kali….. memangnya susu hehehe), presentasi Hudori tentang sebuah daerah di Cisarua dan dengan pede-nya ia menyebut “kita lihat disebelah kiri saya, terdapat kebun teh” kemudian muncul jawaban “kopi, sok tau lu”, sahut Fahru sehingga menjadi special text divideo tersebut, sampai keyword yang masyhur sejak setelah survey, dan selama rihlah yaitu wawancara singkat terhadap Miftah ketika ditanya tentang perjalanan waktu itu, kemudian muncullah ceplosan kata (apa, hayo siapa yang bisa jawab …???) “apalagi ama do’i, oh subhanallah” dan kata – kata ini pun populer karena telah “bleweran” kemana – mana. Ditambah lagi dengan potongan – potongan video kegiatan selama tahun pelajaran ini (ada video yang hemat kami sebetulnya ghoir muaddab, yaitu ketika Ust. Usman, mengajar Bahasa Inggris dan ada disesi keberapa – saya lupa saat beberapa mahasiswa disuruh mempresentasikan bacaan di modul, beliau lalu garuk – garuk kepala seraya muncul flying text “syuf haadza” --> apa maksudnyaaa ini….ya sudahlah, biar akhiinaa al-kariim Hudori yang menjawab), tapi nampaknya cukup mengesankan bagi para pemirsa, pepemirmrisa,,, (bahasa siapa hayoo…).
               Sebetulnya, dalam penggarapan cerita ini, mulai muncul rasa malas meneruskan karena ternyata review ini menjadi panjaaaaaanggggg (ini efek lebay ya, bukan modus wong) sekali. Tapi gak apa – apa, tetap semangat sebagaimana, semangat kita menghadapi syahru al-qur’an alladzi maa daama Allah yanzilu al-barakah al-Mudoo’afaah ‘alainaa fiih, amiin, amiin Yaa Rabb al-‘Aalamiin.
               Setelah nonton selesai, kami sebetulnya menyangka bahwa judul acara evaluasi adalah sekedar sharing ringan dan merencanakan acara pagi yang sebetulnya sudah dipersiapkan berupa games dan sebagainya. Malah, justru membicarakan tentang angket “Kata Mereka Tentangmu” (tadinya ini rahasia lho). Rencananya adalah angket ini disebarkan bersamaan dengan angket untuk awards, namun disusun untuk dibaca secara perseorangan dan pribadi (tapi yang menyusun review ini yang menyusun, jadi punya dokumennya dan tahu seluruhnya --> saya berjanji untuk tidak berkata pada siapapun), maka setelah itu dilanjutkan dengan dengan sharing ringan, dan masing – masing berkomentar tentang kesan komentar – komentar tersebut. Dan diskusi ini, jadi panjang karena, pada keesokan harinya ternyata diteruskan lagi (ikuti terus yaa).
               Waktu sudah menunjukkan jam 10.30 dimulai dari beberapa teman yang berkomentar. Misalnya kami (baca: Masrur), lalu Shiroot yang awalnya mengeluarkan ekspresi terkesan “marah”, eeh ternyata malah terkesan betul. Ada lagi seperti Ochest, yang……… (waktu mau komentar aja, bicaranya buuerrat sekali --> presented lahajat Suroboyoan) yang berjanji kan mengubah kembali namanya menjadi Shofi (boleh diartikan jernih, bening, pure, kholish, kalau boleh kutip dari Taaj al-‘Uruus : الصَّفِيُّ : ( خالِصُ كلِّ شيءٍ ) ومُخْتارُه ، ومنه آدَمُ *!صَفِيُّ اللّهِ ، أي خالِصُه ومُخْتارُه  J. 28 hal. 428). Mungkin, dengan berganti nama, seperti katanya dengan periwayat bil al-ma’naa bisa merubah karakter karena ternyata menurut pengakuannya banyak yang berpendapat ia sebagai sosok yang usil (kosakata baru: Cunihin (sunda) artinya usil), tapi tetap semangat buat Shofi. Ada lagi, yang berpendapat seperti Bahrudin yang melakukan (lagi-lagi, saudara saudara) apologi – apologi cintanya yang “sastra” sekali. Lalu, seperti Enzhe menceritakan latar belakangnya yang ternyata dulunya seorang pendiam dan ceplas – ceplosnya dimasa kini lebih untuk mengekspresikan keberaniannya berbicara (ok, tapi bagaimana kalau berbicaranya diproyeksikan --> bahasanya untuk pendapat – pendapat yang ilmiah ya tanpa mengesampingkan becanda yang sesuatu situasi dan kondisi ---> walah, lama – lama kayak konsultan saja. Ada lagi, seperti Kang Fahru, wah hujuum sekali komentar mas jowo responnya. Gimana dengan ketua panitia ? Seniman, merasa sangat terbangun dengan berbagai komentar tersebut, hanya saja ada komentar yang menyakitkan menurutnya (maaf ya bro, siapa yang komentar tidak bisa disebutkan untuk menjaga ukhuwwah, dan stabilitas serta atmosfir kerukunan kelas) karena berhubungan dengan gaya bicara (contohnya, lihat di paragraf – paragraf sebelumnya).
                 Tapi, tidak seluruhnya dilanjutkan karena waktu sudah sangat larut sebagian sudah mulai ngantuk (termasuk kami saat itu, dan saat mengetik bagian ini. Tapi tenang, lanjutkan terus sehingga memutuskan untuk diselesaikan. Sebagian kawan – kawan ada yang bakar jagung mengisi dinginnya malam, ada yang ngobrol – ngobrol (ujungnya sih curhat…… cinta), nah ini yang terakhir gaple-an dan remi-an. Kami tidak tahu persis, karena sudah tertidur sejak awal dikamar (jadi, kurang lebih seperti itu, ada apa selama saya tidur, tolong di ta’liq dibagian ini bagi yang tahu ya).
               Jam 2.15, kurang dari 3 jam sudah terbangun. Dan sebagian rupanya masih terjaga. Apalagi yang curhat cinta, haduuh gelap – gelapan lagi. Tholhah dan Hudori, masih semangat dengan PS di laptop, ada yang ngobrol dipojok kolam (ini kalau tidak salah, Fahru dan Shiroot), dan tim gaple-an masih tetap main (ya Allah). OK, jam 3.00, masing – masing ada yang lebih memilih tidur, tapi tidak untuk Zaki dan Anis. Dengan tekad yang bulat, pasangan ini memilih untuk tidak tidur (lho, kaya kampanye gubernur). Jadilah, (sekarang ganti, tokohnya saya) saya yang sudah tak ngantuk lagi harus mengajak ngobrol keduanya. Awalnya ikut irama permainan remi-an, lalu gaple-an, dan akhirnya bosan, lalu makan (sudahan). Karena untuk tidurpun tidak bisa, kami pun akhirnya ngobrol – ngobrol santai. Pokoknya ngalor ngidul, tapi disini ada catatan menarik, Zakiyatul Mahmudah pernah punya nama Ahmad Zaki ! (kalimatnya spektakuler, kayak infotainment). Sebelum cerita, ada awalan begini bahwa semakin malam ketika seseorang akan semakin mudah menceritakan sesuatu, termasuk sesuatu yang jauh dari perkiraan seperti latar belakang keluarga, bahkan sesuatu yang tak mau diungkapkan saat terang akan diungkapkan di malam hari (ini sih, katanya…. Jadi nilainya bukan penelitian yaa sok tau aja). Tapi, Zaki cerita bahwa awalnya orangtuanya sudah mengira bahwa yang lahir adalah anak laki – laki, sehingga sudah dipersiapkan nama Ahmad Zaki. Tapi, ketika lahir perempuan – ya jelas tak cocok maka dinamakanlah Zakiyatul Mahmudah (simple sekali, nama baru cukup dengan merubah shighah al-kalimah Zaki – tinggal ditambah ta marbuthoh jadi Zakiyah, lalu nama Ahmad dengan wazan af’ala yang termasuk golongan Ism Ghoir Munshorif far’ ‘ilmiyyah dirubah jadi wazan maf’uulatan --> kalau ini mungkin bentuk maf’uul yang ditambahkan ta’ marbuthoh --> mohon dikoreksi “Miftahul Huda, Zakiyah Mahmudah”). Oh ya, sebelum melanjutkan saya mohon izin kepada mukhotob cerita ini untuk diceritakan ya, kalau belakangan ada complains and critics langsung komentar ya. Fokusnya bukan disana, karena ternyata ia sempat tidak tahu bahwa namanya yang sesungguhnya adalah Zakiyatul Mahmudah. Sampai suatu saat di pesantren, ia populer dipanggil Zaki. Dan ketika diceritakan kepada ibunya, barulah diketahui bahwa sebetulnya saat masih dalam kandungan pernah dikira akan lahir anak laki – laki, dan nama itu yang direncanakan (puuantesss tomboy poll...). Saya pun baru tahu, hobinya adalah menggantung boneka dan menyeret – nyeretnya di jalan (implikasinya adalah hobi sekali dengan film horror dan karena pernah bercita – cita menjadi dokter bedah), lalu pernah main kompor didalam rumah (wah jangan ditiru….).
               Sampai subuh, kami bertiga ngobrol – ngobrol ringan dengan teh hangat dan makan mie goreng sisa makan malam. Lalu jam 5 pagi satu demi satu dari kami mulai pergi untuk melaksanakan sholat subuh (begitu masuk, ya Allah masih tidur….. bangunnnn sudah subuh. Kadang lucu juga, malamnya waktu berdoa dalam rangka nishf sya’ban khusyuk sekali – tapi mungkin ini yang namanya sisi manusiawi seseorang, tapi sudahlah kami pun masing sering demikian.
               Baru jelang jam 6 pagi, beberapa teman putri mungkin sudah sholat di kamar dan mulai menyiapkan sarapan pagi dan menunya kali ini adalah nasgor (akronim nasi goreng, lebih masyhur dengan nama akronimnya), ada yang bersih – bersih, ada pula yang tidur lagi. Tapi, ada yang keren yang gak tidur semalaman, balik lagi ke meja belakang buat gaple-an dan remi-an (hadooh…..). Tapi, yang kami ingat sampai menjelang sarapan sekitar jam 8 pagi seluruh kegiatan hanya diisi oleh kegiatan – kegiatan ringan seperti nonton tv, main game, foto – foto (nah, faqod ashbaha al-moduusaat fii haadza al-majaal). Lalu skitar jam 7.30 semuanya makan (ternyata, menu pagi itu menjadi menu yang paling disantap habis, dan karena masih ada sisanya dimakan lagi setelah jalan pagi ke kebun teh).
               Rencana pagi itu, memang melihat – melihat kebun teh yang berada di arah selatan villa sekitar 500 meter. Semua pun berjalan menuju kesana, dan jalannya rupanya makin menyempit karena ada jalan yang berbagi 2 dengan saluran air (lagi – lagi, memang foto itu sering digunakan menjadi wasilah buat modus….. kok langsung kesini, belum nyambung). Sampai dikebun teh, yang merupakan destinasi wisata didaerah sana, karena setiap pengunjung bisa ikut membantu para pemetik kebun teh. Coba bagaimana menurutmu para pembaca, setiap pemetik pucuk daun di kebun teh itu dihargai hasil petikannya sekitar Rp 500,-/kg, sementara untuk mendapatkan per hari 10 kg itu, kata salah satu pemetik disana butuh waktu dari pagi hingga sore (berarti cuma Rp 5000,- , buat makan nasi ayam di pesanggrahan aja masih kurang Rp 3.000,- , hidup kadang tak adil……. What must we do ?)
               Kembali ke cerita, akhirnya semuanya memutuskan untuk keatas lagi, dan berkumpul disebuah tanah lapang – dan ternyata tidak jadi games, namun meneruskan evaluasi yang dibicarakan semalam (sebetulnya ini sangat jauh dari perkiraan kami, karena awalnya angket itu diperuntukkan untuk pribadi, dan khawatir menimbulkan kecemburuan atau percikan – percikan kecil jika diungkapkan secara terbuka maka kami memilih memasukkannya kedalam amplop dan diserahkan kepada masing – masing). Rupanya, atas instruksi seksi acara, kang Fahru (mungkin juga dia ngantuk karena begadang semalaman) maka dilanjutkan dengan sharing dari beberapa teman yang belum mendapatkan kesempatan berbicara. Tapi, secara umum respon yang diberikan kebanyakan positif. Yang kami ingat, misalnya ada yang mengatakan bahwa sangat merasa terbangun, dan menjadi motivasi dengan komentar – komentar tersebut – padahal tadinya ia sempat punya pemikiran untuk mundur dari FDI, kini ia malah men-support siapapun untuk bertahan di fakultas itu (ya, semoga diiringi dengan semangat belajar yang besar dan consist ya…). Ada yang awalnya merasa kurang kerasan sehingga sering cepat pulang setelah kuliah, dan kebetulan ia harus pulang pergi Ciputat – Bekasi. Ada pula yang memberikan responsi yang cukup tajam (setajam………… silet… lho bukan ya) tapi tidak sampai dijadikan perdebatan yang tak berujung. Ada yang merasa berterima kasih dengan adanya komentar tersebut, dan memohon maaf bila selama ini ada tingkah laku yang kurang berkenan.
               Tapi, ada satu komentar menarik dimana banyak juga pada waktu itu jadi sambil memberikan respon atas komentar – komentarnya ada pula yang memberikan kickback dengan respon atau pernyataan – pernyataan (sebetulnya, ini yang dikhawatirkan terjadi) yaitu pernyataan bahwa sebetulnya inti pembicaraan itu semua adalah saling mengoreksi diri, dan mengingatkan adalah hal utama dalam setiap hubungan. Tak terasa, lebih dari 1 jam sudah pembicaraan mengenai evaluasi dan sharing antar ‘adhwu al-fashl. Dan kegiatan itu diakhiri dengan foto bersama.
Kalimah al-Ikhtitam wa al-Targhib
               Akhirnya, review yang singkat ini sebetulnya masih ada beberapa cerita yang ingin diteruskan, tapi nampaknya bukanlah merupakan sesuatu yang tidak perlu didiskusikan dan direnungkan (ini sih biar kelihatan ilmiah, aslinya sudah “malas” dan “lapar” --> bukan makna sesungguhnya ya), walaupun ada cerita – cerita pinggir yang lucu juga untuk diangkat ke tengah seperti kasus zaidun qoimun vis to vis dhoroba zaidun (kalau ada yang merasa, mintaaa maaafff lagi yaaaa………..) tapi sepertinya tidak terlalu substantif untuk dibicarakan.
               Dan kalimat penutup dari cerita ini adalah, semoga dengan momentum bulan ramadhan ini, adalah momentum untuk bertolak dari kemalasan, dan keapaadaan dalam melakukan sesuatu (khususnya buat yang nulis, semoga taubat dari tidur panjangnya). Karena, keapadaan itu sudah pasti secara simultan menunaikan kita kepada formalitas semu – yang entah kenapa selalu menjadi kekhawatiran kami dengan melihat menurunnya aspek kritis – konstruktif dari kalangan mahasiswa (yang dalam konteks dirosat, mu’dhomuhum adalah santri, atau yang pernah bergelut dengan dunia skolastik santri). Sederhananya, bukankah Ulu al-Albaab (golongan yang berusaha memahami esensial) adalah  orang yang senantiasa mengkaitkan antara istiqrooat (pengamatan induktif) yang dalam konteks ini adalah melihat fenomena praksis dari masyarakatnya untuk kemudian diselesaikan dalam bingkai keimanan (teringat surah ali Imran 190 – 191). Tapi, semoga hal – hal ini bisa menjadi penyemangat dan pembangkit semangat kembali, khususnya pada diri kami dan umumnya bagi para pembaca review ini. Dan semoga iman, persahabatan, kasih sayang, dan tekad bulat menjadi tetralogi yang selalu mengikat semua dalam naungannya. Wassalam
تعلم فإن العلم زين لأهله * و فضل و عنوان لكل المحامد
و كن مستفيدا كل يوم زيادة * من العلم و اسبح في بحور الفوائد
تفقه  فإن الفقه  أفضل قائد * إلى البرّ و التقوى و أعدل قاصد
هو العلم الهادي إلى سنن الهدى * هو الحصن ينجي من جميع الشدائد
فإن فقيها واحدا متورعا * أشد على الشيطان من ألف عابد[3]


[1] Ada cerita menarik sebetulnya, jargon itu kami (baca: masrur) ambil dari salah satu kakak kelas di Pesantren Daar al-Sunnah, yang baru saja diwisuda dan mendapatkan predikat sebagai mahasantri terbaik ke-2. Didalam Dzikrayaat al-Takhorruj ia menuliskan pesannya dengan kisah Naaimiin tadi, dan isinya menurut kami sangat membangun karena melihat sisi lain, dari tidur itu sendiri. Intinya, tidak selamanya tidur itu buruk, karena banyak pula yang berhasil, walaupun sehari – hari sebagai tidur. Dan kebetulan juga, ia seorang teman baik kami namun ia sering menekankan bahwa jangan dijadikan sebagai kesengajaan, karena akan menyesal dikemudian hari dengan tidur – tidur di waktu yang bermanfaat. Sangat mungkin, ada keterangan – keterangan penting yang tidak kita dapatkan di muqorror ada saat jam – jam kuliah. So, Tuubuu ila Allah Ayyuhaa al-Naaimiin.
[2] Ini, kaya meriwayatkan hadits musalsal saja, ya gak apa – apa lah, mraktekkan ilmu……
[3] Syair yang masyhur didalam kitab Ta’lim al-Muta’allim hal. 3 karangan Syaikh al-Zarnuji ini adalah salah satu pegangan dan nasihat bagi siapapun yang hendak berkecimpung dalam lautan ilmu