Bagaimana pendapat anda tentang laman ini ?

Statistik

Tampilkan postingan dengan label Filsafat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Filsafat. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 14 April 2012

al-Qur'an, Memori, dan Pak Quraish

Bismillahirrahmaanirrahim

Kamis siang, waktu itu sekitar jam 13.30 pada hari kamis, 12 April 2012 kami memutuskan untuk berangkat mengikuti langkah kaki, yang merupakan hasil respon dari sms jarkom (baca:jaringan komunikasi, ternyata populer dikalangan mahasiswa) ke Pusat Studi al-Qur'an (PSQ) di daerah Ciputat. Ini adalah kali pertama mengunjungi lembaga yang memang concern dibidang al-Qur'an, beserta ilmu - ilmu perangkatnya baik 'Ulum al-Qur'an, Tafsir, serta pengkaderannya dimana membina para pemilik hafal al-Qur'an untuk mengikuti pendidikan disana, masyhur dikenal dengan Pendidikan Kader Mufassir (PKM). Tapi, hari itu bukan hendak ikut program, yang khusus bagi para ahli, yang sedang melaksanakan pendidikan S2, atau S3 di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dan sekitarnya seperti Institut Ilmu al-Quran (IIQ), ataupun Perguruan Tinggi Ilmu al-Qur'an (PTIQ) Jakarta.

Titik pembahasan pertama, sms nyasar + barokah itu memang acara tentang pendalaman ulumul qur'an dan ulumul tafsir. Dengan segera, kami tertarik untuk hadir disana yang ternyata berbentuk sebuah shortcourse selama 8 pertemuan.

Ada hal yang pertama kali sangat mencolok, hal ini bukan bagian dari sifat norak, tapi saat hendak masuk, sontak kami melihat pak Quraish keluar, beliau hanya tersenyum simpul melihat beberapa orang yang hendak masuk untuk mengikuti program yang dilaksanakan atas kerjasama dengan seorang dosen tafsir (saya tak ingat namanya) dan Fakultas Ushuludin & Filsafat (FUF) UIN Jakarta.

Nampaknya, beliau hendak segera pulang, pada waktu itu dan ternyata memang benar ada sebuah mobil yang telah siap jalan dari tempat parkir, dan kami semua pun memberi ruang beliau untuk lewat. Dan akhirnya beliau meninggalkan PSQ, dan kami baru betul - betul tersadar setelah beliau pergi, dan kami hanya berkata: "Tadi itu Pak Quraish ??!!!".

Ya memang, jauh 2 tahun, kurang lebih sebelum kuliah di UIN, kami pernah membaca, karya - karya beliau yang ada.Tidak semua memang, tapi kalau ditarik garis merah yang kami dapati bahwa retorika yang halus itu sangat, bahkan mutlak mungkin dimungkinkan. Bahasa beliau yang halus, penuh moderasi, melihat sistamatika berpikirnya, dan hal - hal lain yang menyebabkan kami mengagumi tulisan - tulisan beliau.

Ya, moderasi dan ketenangan namun disertai argumen yang kuat, pada akhirnya memang lebih mudah diterima, dipahami, dan diserap masyarakat yang sedang dalam kondisi yang penuh dengan disparitas dan disintegritas sangat membutuhkan pembumian pesan - pesan al-Qur'an, yang menjadi sumber utama dalam Islam.

***___***

Dalam kaitannya dengan al-Qur'an, dimana kedudukannya membutuhkan tafsir, baik itu tafsir itu menggunakan media penafsiran riwayat-riwayat hadits yang dikenal dengan tafsir bi al-ma'tsur, ataupun menggunakan media akal pikiran yang dikenal dengan tafsir bi al-ra'yi. Kaitannya dengan Pak Quraish, yang dikenal paling tidak, atau menjadi favorit kalangan penikmat tafsir di Indonesia dengan penerangan - penerangannya tentang makna - makna ayat al-Qur'an yang mana sering dijadikan rujukan (seingat dan sependek bacaan kami) pada tafsir al-Mishbah adalah karya al-Thobathoba'i (Mufassir yang mempunyai tafsir al-Mizan) dan al-Biqo'i (dengan tafsir Nazm al-Duror). Keduanya adalah tafsir dengan corak bi al-ra'yi. Memang beliau, tidak terlalu banyak menggunakan riwayat - riwayat hadits, dan lebih sering menggunakan makna-makna bahasa, munasabah dengan ayat lain, serta makna-makna yang bisa digali didalamnya dan menggali pesan - pesan yang terkandung, sehingga bisa menjadi kawan dengan zaman, ataupun menjadi kritik bagi zamannya.

Mungkin hal itu, yang bisa sekilas kami bicarakan tentang pak Quraish, dengan tafsirnya. Bagi saya, al-Qur'an adalah hal yang sangat patut untuk diimani, dengan sistematikanya yang sangat menawan, dan tak terbantahkan sebagai sebuah wahyu yang otentik. Dan, bersaman dengan itu, dikelola pula oleh para sahabat yang punyai kapabilitas yang luar biasa, dengan bernafaskan iman. Bahkan, menghafalnya pun sejatinya tidak begitu sulit, sebagaimana yang dibayangkan sebagian kalangan. Belum, lagi ketika mengarah kepada tafsir -tafsirnya yang memunculkan sekian bentuk tafsir - tafsir dengan berbagai macam corak, metode, dan pendekatan. Ditambah, yang memunculkan implikasi hukum yang dijalankan bersanding dengan sunnah, dan melahirkan ribuan jilid kitab - kitab fiqh yang merupakan hasil interpretasi, interaksi, dan  realisasi dari keduanya. Belumlah pada akhirnya, ketika sesuatu harus diamalkan. Sebagaimana al-Qur'an pula, dan pada akhirnya  sebagaimana kata pak Quraish (atau saya kurang dhobit, apakah beliau pernah berbicara ini atau tidak, dalam buku ataupun ceramahnya) yaitu bagaimana menjadikan al-Qur'an sebagai hidangan. Dalam arti, sebagaimana sebuah hidangan, tentulah penjamunya atau kita semestinya menikmatinya sebagai sebuah berkah yang akan masuk kedalam tubuh, dan diserap sari - sarinya untuk diedarkan melalui darah keseluruh tubuh, hal itulah yang ingin dicapai al-Qur'an sebagai sebuah sumber utama Islam.

****_____****

Pada akhirnya, tiga unsur judul diatas adalah beberapa titik penting dari pengalaman yang berharga ini, dan semoga dengan ilmu, kita semua bisa bermanfaat bagi diri sendiri, dan orang lain, serta menjadi orang - orang yang selalu berdoa kepada Allah SWT, dan menjadi orang - orang yang mendapatkan petunjuk menuju jalan ilahi (falyastajiibuulii walyu.minuubii la'allahum yarsyuduun), Wallahu a'lam

Ciputat, 13 Mei 2012

Minggu, 08 April 2012

'Abid al-Jabiri - Muhaawarah naqdh al-fikr al-'arabi

             


Mencoba, memahami kritik nalar Arab ala al-Jaabiri, itu saja ............

Jumat, 23 Maret 2012

Mengenal Allah Dengan Filsafat - Resensi Qisshah Al Iman Bain Al Falsafah Wa Al 'Ilm Wa Al Qur’an

Sampai sekarang masih banyak orang Islam dan para ulama konservatif yang menolak keberadaan filsafat, terutama filsafat cabang metafisika sebagai jalan untuk mengenal Allah. Mereka menganggap bahwa filsafat dapat menyesatkan dan tidak diperlukan bahkan ada pula yang mengharamkan mempelajari filsafat metafisika karena ia dapat menjerumuskan seseorang menuju kekafiran.

Asumsi di atas menjadi semakin menemukan justifikasinya manakala mereka mendengar banyak atau ada beberapa mahasiswa IAIN atau UIN jurusan akidah filsafat yang tidak lagi mau mengerjakan shalat lima waktu karena menganggap shalat tidak diperlukan lagi dan Tuhan tidak perlu disembah. Bahkan ada pula yang mulai ragu apakah tuhan benar-benar ada ataukah ia hanya hasil rekayasa atau ciptaan manusia.

Kitab yang ditulis oleh Syaikh Nadim al Jisr, mantan Mufti Tarabuls, Lebanon Selatan ini agaknya ditujukan untuk menghilangkan asumsi bahwa filsafat metafisika bertentangan dengan agama dan bisa menyebabkan kekufuran. Ia ingin menunjukan bahwa filsafat sebenarnya dapat menuntun seseorang untuk mengenal Allah dengan keyakinan yang mantap asalkan filsafat itu dikaji dengan mendalam dengan ungkapan yang jelas ia mengatakan bahwa filsafat itu lautan yang tidak sama dengan lautan yang lain. Seseorang akan menemukan bahaya dan tersesat apabila ia dipinggirnya. Keamanan dan pencapaian iman justru terdapat ditengah kedalaman filsafat itu.


Untuk membuktikan bahwa filsafat tidak bertentangan dengan agama atau al Qur’an maka Syaikh Nadim mengajukan karyanya ini secara sistematis dan menguraikan persoalan-persoalan filsafat metafisika secara runtut dan mendalam. Ia menguraikan pemikiran filsafat metafisika mengenai asal usul penciptaan yang dimulai dari pemkiran para filosof Yunani kuno hingga filosof Muslim dan dilanjutkan dengan pemikiran para filosof modern. Dengan tekun dan sabar, ia menyajikan semua pendapat di atas secara urut kronologis-historis, di mana pembaca karya ini akan menarik suatu kesimpulan yang tak terbantahkan bahwa filsafat, khususnya metafisika tidak bertentangan dengan agama atau al Qur’an.

Kitab ini dimulai dengan mengambil setting cerita tentang seorang pemuda yang bernama Hairan Bin Al Adh’af Al Punjabi, seorang mahasiswa Universitas Pesawar. Ia seorang pemuda yang sangat haus tentang ilmu pengetahuan dan berfikir seperti cara berfikir filsafat yang selalu ingin mengkaji asal usul dan hakikah segala sesuatu mengapa ia ada, dan apa hikmah serta penciptaanya. Hairan selalu bertanya kepada gurunya juga teman-temannya tentang alam semesta, ia bertanya kenapa alam ini diciptakan, kapan diciptakan, dari apa, siapa yang menciptakan, dan bagaimana ia menciptakannya. Pertanyaan–pertanyaan filosofis di atas membuat ia diejek dan dicemooh teman–temanya. Sebagaian dosennya pun mengatakan bahwa ia bukanlah orang yang sedang menuntut ilmu agama melainkan orang yang sok berfilsafat.

Semua ejekan dan bentakan tidak membuatnya patah semangat mempelajari filsafat akan tetapi justru menguatkan keyakinannya bahwa hakikat yang ia lihat hanya dapat diketahui dengan filsafat. Oleh karena itu iapun tenggelam dalam mempelajari buku-buku filsafat. Meski demikian pihak Universitas telah menganggap fenomena Hairan ini sebagai penyakit akut yang harus diamputasi sebelum menyebar dan menjalar kepada mahasiswa yang lain. Oleh karena itu pihak universitaspun memecatnya dan ia dikeluarkan dari kampus.

Berita pemecatan Hairan bagaikan petir yang menggelegar bagi sang ayah. Sang ayah kemudian menasehatinya agar meninggalkan filsafat dan menekuni ilmu agama terlebih dahulu. Sang ayah kemudian menunjukan gurunya yang bernama Abu An Nur Al Mauzun jika ia ingin mempelajari hakikat filsafat. Tanpa berfikir panjang Hairan kemudian pergi ke Khartank, Samarkan, suatu desa kecil di mana Syaikh sedang menghabiskan usia tuanya untuk berkhalwat di masjid dan dekat dengan imam Bukhari. Akhirnya Hairan mendapat bimbingan dan petunjuk dari sang Guru dalam mempelajari filsafat. Untuk mengenal Allah ada tiga tahapan yang digunakan Syaikh Al Mauzun.

Pertama, pendekatan filsafat. Kedua, mengkaji hasil informasi sains dan ilmu pengetahuan. Ketiga, melalui al Qur’an. Terasa agak aneh memang kenapa pendekatan Al Qur’an justru pada tahapan terakhir bukan yang pertama seperti yang biasa dilakukan ulama-ulama tradisional yang lebih suka secara langsung menggunakan dalil-dalil al Qur’an atau Sunnah dalam mengajarkan tauhid. Metode yang digunakan Syaikh Al Mauzun ini agaknya sengaja digunakan sedemikian rupa untuk membuktikan bahwa untuk mengenal Tuhan, manusia dapat menggunakan akalnya tanpa harus terlebih dahulu dibimbing oleh wahyu. Untuk itu sang guru membawa Hairan menelaah dan menelusuri pandangan para filosof Yunani kuno mengenai wujud Allah dan asal usul penciptaan alam semesta.

Syaikh Al Mauzun menjelaskan bagiamana Thales mengatakan bahwa asal segala sesuatu adalah air. Bagi Thales dan semua filosof, dunia ini tidak mungkin diciptakan dari murni ketiadaan. Dan sudah pasti ada asal usulnya. Pada dasarnya permulaan segala sesuatu adalah perubahan. Karena itu harus ada materi azali yang menjadi asal usul segala sesuatu. Dan materi azali itu adalah air. Karena air bisa menerima perubahan. Air bisa beku dan bisa mencair, bisa menguap, dan kembali menjadi air. Dan air adalah syarat kehidupan. Lalu Aneximenes mengatakan asal usul penciptaan adalah udara, bukan air. Aneximender mengatakan asal usul segala sesuatu harus berasal dari sesuatu yang tidak berbentuk, tidak ada kesudahanya dan tidak terbatas. Air memiliki sifat-sifat tersendiri. Begitu pula udara. Dan semua yang ada juga memiliki sifat tersendiri juga. Oleh karena itu tidak mungkin semua benda yang memiliki keanekaragaman sifat berasal dari satu materi. Konsepsi Anaximender ini mirip konsep ‘laisa kamitslihi syai’un’. Hanya saja ia masih menyebut materi yang tidak terbatas dan berkesudahan dan Tuhan bukanlah materi. Asal usul segala sesuatu haruslah berupa bilangan dan kita menghitung angka satu demi satu maka asal usul segala sesuatu haruslah yang satu, kata Pitagoras (2830).

Demikianlah seterusnya pendapat Democritos, Aristoteles, Socrates, Plato, dan para filosof kuno dikaji satu demi satu. Agaknya Syaikh al Mauzun ingin menunjukan pada pembaca betapa pemikiran manusia tentang Tuhan sudah berkembang sejak zaman dahulu dan dengan akalnya pula manusia dapat menemukan adanya Tuhan yang menciptakan dan menjadi asal usul segala sesuatu. Setelah mempelari pemikiran filosof Yunani kuno, Syaikh Al Mauzun mengajak Hairan untuk menelaah pendapat para filosof Muslim seperti al Farabi, Ibnu Sina, dan Ar Razi tentang pembuktian adanya Allah sebagai pencipta alam semesta. Sang Syaikh juga menolak pendapat yang mengatakan bahwa para filosof muslim itu memiliki iman yang lemah. Justru menurutnya mereka adalah orang-orang yang memiliki akidah yang sangat kuat kepada Allah karena mereka menggabungkan iman kepada wahyu dengan penalaran akal sehat. Penggabungan ini bagaikan cahaya di atas cahaya. Tidak lupa sang Syaikh mengajak Hairan untuk membandingkan pendapat al Ghazali dengan Kant dan Descartes dan melihat adanya titik temu pendapat di antara mereka. Tidak ketinggalan pula bagaimana pendapat Ibnu Rush, Al Ma’ari dan Ibnu Khaldun dikaji secara mendalam. Ia juga menjelaskan mengapa ada orang seperti al Ghazali yang mengkafirkan filosof Muslim seperti Ibnu Sina dan Al Farabi. Menurutnya hal itu disebabkan adanya perbedaan konsepsi mengenaiQidam al Alam antara mereka. Setelah mempelajari filosof muslim mengenai pembuktian Allah maka Syaikh Al Mauzun mengajak Hairan mengkaji pendapat filosof modern seperti Thomas Aquinas, Bacon, Descartes, Pascal, Spinoza,

Lock, dan David Hume mengenai hakikat wujud. Banyak di antara mereka memiliki kesamaan pandangan dengan filosof muslim. Pascal, seperti halnya al Farabi dan Ibnu Sina mengatakan bahwa akal fitrah manusia dapat menemukan adanya Allah sebagai pencipta akan tetapi akal manusia tidak akan mampu memahami hakikat wujud penciptaan dan pencipta. Karena akal manusia terbatas untuk mencapainya (131).

Setelah mengkaji filsafat, Syaikh al Mauzun mengajak Hairan untuk memahami ilmu pengetahuan dan sain. Mereka mengkaji benda-benda langit laut, tumbuh –tumbuhan, hewan, bahkan manusia. Semuanya bertasbih kepada Allah. Semuanya itu terjadi bukan karena kebetulan. Menurut Syaikh Al Mauzun tidaklah dapat diterima oleh akal bahwa keberaturan, keseimbangan, ketelitian, serta keindahan yang ada dialam semesta ini terjadi dan tercipta secara kebetulan.

Setelah mengkaji sain dan ilmu pengetahuan, Syaikh Al Mauzun mengajak Hairan membaca Ayat-ayat Al Qur’an yang berkait dengan sain dan ilmu pengetahuan. Dan ia berpesan agar Hairan senantiasa membaca ayat-ayat itu sehingga apa yang tampak wujud dialam semesta ini akan senantiasa bisa dikaitkan dengan Al Qur’an. Membaca karya putra pengarang kitab al Hushun Al Hamidiyah ini memang sangat mengasyikkan dan membacanyapun perlu ketekunan, kesabaran, terutama bagi yang tidak terbiasa dengan persoalan –persoalan filsafat. Akan tetapi kontribusi terbesar dan sangat layak untuk diapresiasi adalah ia berhasil menunjukan bahwa antara filsafat khususnya filsafat metafisika, sains dan ilmu pengatahuan dan al Qur’an tidak ada pertentangan. Justru filsafat dapat menghantarkan seseorang untuk mengenal Allah dengan akidah yang kuat.

Kiranya karya ini layak untuk menjadi bacaan bagi kalangan pesantren yang selama ini terkesan tidak begitu akrab dengan filsafat terutama bagi mereka yang mengajar tauhid, tafsir Al Qur’an. Karya ini terasa semakin berbobot dengan banyaknya sambutan dan pujian dari berbagai kalangan mulai dari para ulama, bahkan para politisi dan pejabat di dunia Islam. (Samito, MSI, Guru Madrasah Nurul Ummah Kotagede Yogyakarta)

Tentang Kitab:

Judul

:

Qisshah Al Iman Bain Al Falsafah Wa Al 'Ilm Wa Al Qur’an

Penulis

:

Syaikh Nadim Al Jisr

Penerbit

:

Bairut, Dar Al Arabiyyah

Cet.

:

III/1969

Hal.

:

451 Halaman