Bagaimana pendapat anda tentang laman ini ?

Statistik

Tampilkan postingan dengan label Budaya. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Budaya. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 19 Mei 2012

Kritik Budaya dan "Ceplokan" Ulang Tahun

      Lebih dari sebulan yang lalu, saya sebetulnya sudah sering menyaksikan itu sejak masih sekolah ditingkat menengah, namun saya baru melihatnya kembali disaat bangku kuliah pada saat itu. Ulang tahun, sebagai sebuah masa, bertambahnya umur dirayakan dengan menumpahkan tepung ke kepala seseorang yang ulang tahun, dengan argumentasi bahwa itu merupakan gambaran akan sikap apresiasi terhadap bertambah umurnya seseorang. Dan, hal itu pada awalnya, penulis kira hanya populer di kota besar saja, namun ternyata sudah sampai kepada daerah - daerah lain. Kesimpulan ini, didapat ketika melihat peristiwa itu, yang dilakukan oleh orang-orang yang saya kenal, begitu pula objek sasarannya. Peristiwa diatas masyhur dengan sebutan diceplokin, karena pada awalnya menggunakan telur mentah untuk ditumpahkan keatas kepala, dan kini bervarian dengan tepung, dan semacamnya dan dilaksanakan saat ulang tahun seseorang. Pada dasarnya, objek sasaran menolak.

        Pada prinsipnya, melihat dari hal yang terjadi diatas, sepertinya muncul kegelisahan mendasar seharusnya dari hal itu. Terjemahan budaya, yang pada awalnya menurut saya adalah kearifan lokal yang mengakar kuat dengan historitas dari objek tersebut, kemudian mempunyai pesan - pesan kearifan yang tinggi kemudian akan bergeser bahkan pendangkalan makna menjadi kebiasaan yang diikuti dari masa lalu saja, tanpa memperhatikan akar historiografi dan pesan - pesannya. Inilah, titik sederhana dari penguatan makna kebudayaan, apalagi jika disinkronisasi dengan pesan - pesan keagamaan yang sifatnya wahyu (sebagaimana Islam) yang bahkan mengisi sebuah budaya, menjadi lebih bermakna dan tinggi mutunya.      

    Kemudian, sudahkah budaya perayaan ulang tahun, dalam bentuk yang demikian telah menerjemahkan makna bertambahnya umur dari ulang tahun, atau ternyata justru menjadi distorsi yang cukup akut sehingga hanya terjebak pada warna-warna dzohir belaka. Ah, marilah kita memahami secara sederhana saja, kita mencoba membandingkan berapa efek negatif dan efek positifnya. Sederhananya, tidak ada seorangpun yang ingin diceplok dengan benda-benda atau apapun yang lazim berada diatas kepala, walaupun diterjemahkan dengan makna sebuah ekspresi kesenangan, namun sesuatu yang tidak lazim dan merugikan dari faktor dalam benda itu sendiri, justru bertentangan dengan semangat kebudayaan, logika yang sehat, dan suasana perasaan. Dan, pada umumnya hal ini menimbulkan perasaan tidak ridho, walaupun sesaat saja bahkan terhadap teman - temannya sendiri. 

     Sesudahnya, pada prakteknya seseorang dimasa kini akan melupakan terhadap apa yang dilakukan, karena demi menjaga solidaritas persahabatan, atau tidak ingin larut dalam ketersinggungan. Namun, perasaan itu akan muncul kembali pada saat temannya, memasuki hari ulang tahunnya. Maka, muncul perasaan saling membalas dengan keinginan supaya mendapatkan ganjaran yang sama dari apa yang pernah dilakukan terhadapnya diwaktu sebelumnya. Hal, ini juga yang justru mencederai semangat kearifan pesan budaya, dan hal itu gagal diperjuangkan oleh budaya ceplok itu sendiri. 

      Dan, disisi lain pada dasarnya hal ini dimasyarakat kosmopolitan seperti ini, tidak begitu banyak dipikirkan, untuk masalah ini yaitu nilai guna sesungguhnya dari benda - benda itu, seperti telur, terigu, dan benda - benda yang dijadikan "misil" bagi objek ulang tahun. Walaupun persaingan, dan permasalahan ekonomi adalah hal yang sering diperbincangkan, diperdebatkan, bahkan menjadi bahan bagus untuk demonstrasi, secara sederhana dilupakan untuk hal ini. Logika sederhanya, jika ingin memahami masalah yang besar, tidakkah lebih baik dengan belajar mendayagunakan sebaik mungkin, benda - benda yang sederhana agar mempunyai nilai guna ?

      Ketiga poin pada tiga paragraf tadi, adalah pekerjaan yang perlu dipikirkan dan dijadikan perenungan untuk perubahan dan relokasi kembali makna budaya dan kaitannya dengan praktek tersebut. Kami yang amatir ini, merasa masih ada cara - cara lain untuk menerjemahkan menjadi lebih baik sebuah budaya tersebut. Sangat banyak, memang hal-hal yang kontradiktif dengan pesan aslinya, dan supremasi makna mendalam dari budaya, dan pemaknaan agama yang mendalam juga bisa menjadi konklusi atas segala pertentangan ini. Dan semoga, hal ini bisa dijadikan langkah bersama bagi siapapun yang ingin mengangkat kembali, pesan - pesan luhur kemanusiaan yang mulai sirna, dan tergerus oleh nilai - nilai praksis yang tidak ada akar yang menancap kuat. Dan, semoga, bagaimanapun teks ini terbuka untuk kritik dan masukan, semoga. 

Wallahu a'lam bi al-showwab

Sabtu, 03 Maret 2012

SIAPAKAH MUSLIM YANG BAIK ???

Dari banyak kalangan Islam, yang berangkat dari lingkungan tradisonalis misalnya tentunya telah banyak bersentuhan dengan setidaknya kemapanan nilai-nilai agama yang sangat mapan, baik dari sisi struktur dari kitab tersebut, maupun unsur – unsur dari manusia yang terus menopang penggunaan kitab tersebut. Memang, hampir seluruh kitab – kitab yang disusun oleh para ‘ulama dengan bahasa Arab tersebut bisa dikatakan sebagai tafsiran dari Al-Qur’an dan Hadits/Sunnah apakah itu Tauhid, Fiqh, dan Tasawwuf. Sehingga, berpikir sederhananya adalah berarti mengenal sumber-sumber Islam dengan bahasa ibunya, dan kesimpulannya berarti semakin mempermudah jalan menuju Allah SWT.

Namun ada pula segolongan kelompok yang mungkin sangat jauh dari setidaknya tata bahasa asli dari Al-Qur’an, yaitu bahasa Arab yang praktis berarti pemahaman yang tidak sesempurna kalangan tradisionalis yang memahami sejak awal tata bahasa arab untuk memahami sumber-sumber unggulan umat muslim. Namun, apakah mereka dengan latar belakang pedagang, teknokrat, birokrat, konglomerat, dan profesi – profesi lain yang mungkin belum sempat memahami sumber – sumber keagamaan secara utuh, sehingga kalaupun membaca sumber-sumber keagamaan maka menggunakan sumber – sumber yang diterjemahkan (dalam bahasa Indonesia) misalnya. Maka, apakah mereka bisa di-klaim sebagai muslim yang kurang baik dari mereka yang belajar sejak awal sumber – sumber keagamaan Islam.

Dua kasus diatas memang bukan ingin dihadapkan secara kontraposisi, namun ini setidaknya menjadi reintropeksi secara terus menerus dari diri kita. Bukankah Islam sebagai rahmah li al-‘aalamiin ini telah menyatakan dalam sebuah ayat dalam Al-Qur’an Al-An’am:125 :

125. Barangsiapa yang Allah menghendaki akan memberikan kepadanya petunjuk, niscaya Dia melapangkan dadanya untuk (memeluk agama) Islam. dan Barangsiapa yang dikehendaki Allah kesesatannya[503], niscaya Allah menjadikan dadanya sesak lagi sempit, seolah-olah ia sedang mendaki langit. Begitulah Allah menimpakan siksa kepada orang-orang yang tidak beriman.

Hal inilah yang sebetunya menjadi kunci dari pemahaman yang mendalam dari sebuah saja – misalnya, dari nilai-nilai yang terkandung didalam Islam. Maka siapapun yang berkehendak menuju kebaikan dan mau membersihkan dirinya dari segala ekses-ekses yang menggangu kedudukan dasar manusia sebagai pengelola tunggal dimuka bumi ini, maka Allah bukakan jalan-Nya menuju Islam.

Tinggal, kita misalnya yang berlatar belakang pendidikan Islam berbasis tradisonal, terus merevitalisasi nilai-nilai yang terkandung dalam sumber – sumber bermutu keislaman, walaupun dari hal itu semua sumber – sumber Tradisionalis semestinya terus menerus dievaluasi dan disinergikan dengan Al-Qur’an dan Hadits, dua sumber primer umat Islam. Karena, bagaimanapun bukankah itu semua (baca:kitab kuning misalnya) adalah hasil ijtihad dan konklusi dari ulama-ulama besar terdahulu. Dan sebaliknya kalangan yang muncul terus keinginan akan memahami dan mengamalkan secara utuh agamanya bisa saling bersimbiosis mutualisme dengan siapapun yang telah selangkah dalam memahami sumber-sumber agama secara tekstual, maupun (walau terus direvitalisasi) kontekstual.

Jadi, keimanan dan kesalehan bukan tergantung dari banyaknya sumber yang dibaca dan dimiliki, bukan ?

Lahir dari menguping celotehan seorang separuh baya yang bercerita dengan penuh semangat akan Islam via telepon dengan seseorang

بارك الله بعمره و علينا محاسبتنا