Kamis siang, waktu itu sekitar jam 13.30 pada hari kamis, 12 April 2012 kami memutuskan untuk berangkat mengikuti langkah kaki, yang merupakan hasil respon dari sms jarkom (baca:jaringan komunikasi, ternyata populer dikalangan mahasiswa) ke Pusat Studi al-Qur'an (PSQ) di daerah Ciputat. Ini adalah kali pertama mengunjungi lembaga yang memang concern dibidang al-Qur'an, beserta ilmu - ilmu perangkatnya baik 'Ulum al-Qur'an, Tafsir, serta pengkaderannya dimana membina para pemilik hafal al-Qur'an untuk mengikuti pendidikan disana, masyhur dikenal dengan Pendidikan Kader Mufassir (PKM). Tapi, hari itu bukan hendak ikut program, yang khusus bagi para ahli, yang sedang melaksanakan pendidikan S2, atau S3 di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dan sekitarnya seperti Institut Ilmu al-Quran (IIQ), ataupun Perguruan Tinggi Ilmu al-Qur'an (PTIQ) Jakarta.
Titik pembahasan pertama, sms nyasar + barokah itu memang acara tentang pendalaman ulumul qur'an dan ulumul tafsir. Dengan segera, kami tertarik untuk hadir disana yang ternyata berbentuk sebuah shortcourse selama 8 pertemuan.
Ada hal yang pertama kali sangat mencolok, hal ini bukan bagian dari sifat norak, tapi saat hendak masuk, sontak kami melihat pak Quraish keluar, beliau hanya tersenyum simpul melihat beberapa orang yang hendak masuk untuk mengikuti program yang dilaksanakan atas kerjasama dengan seorang dosen tafsir (saya tak ingat namanya) dan Fakultas Ushuludin & Filsafat (FUF) UIN Jakarta.
Nampaknya, beliau hendak segera pulang, pada waktu itu dan ternyata memang benar ada sebuah mobil yang telah siap jalan dari tempat parkir, dan kami semua pun memberi ruang beliau untuk lewat. Dan akhirnya beliau meninggalkan PSQ, dan kami baru betul - betul tersadar setelah beliau pergi, dan kami hanya berkata: "Tadi itu Pak Quraish ??!!!".
Ya memang, jauh 2 tahun, kurang lebih sebelum kuliah di UIN, kami pernah membaca, karya - karya beliau yang ada.Tidak semua memang, tapi kalau ditarik garis merah yang kami dapati bahwa retorika yang halus itu sangat, bahkan mutlak mungkin dimungkinkan. Bahasa beliau yang halus, penuh moderasi, melihat sistamatika berpikirnya, dan hal - hal lain yang menyebabkan kami mengagumi tulisan - tulisan beliau.
Ya, moderasi dan ketenangan namun disertai argumen yang kuat, pada akhirnya memang lebih mudah diterima, dipahami, dan diserap masyarakat yang sedang dalam kondisi yang penuh dengan disparitas dan disintegritas sangat membutuhkan pembumian pesan - pesan al-Qur'an, yang menjadi sumber utama dalam Islam.
Mungkin hal itu, yang bisa sekilas kami bicarakan tentang pak Quraish, dengan tafsirnya. Bagi saya, al-Qur'an adalah hal yang sangat patut untuk diimani, dengan sistematikanya yang sangat menawan, dan tak terbantahkan sebagai sebuah wahyu yang otentik. Dan, bersaman dengan itu, dikelola pula oleh para sahabat yang punyai kapabilitas yang luar biasa, dengan bernafaskan iman. Bahkan, menghafalnya pun sejatinya tidak begitu sulit, sebagaimana yang dibayangkan sebagian kalangan. Belum, lagi ketika mengarah kepada tafsir -tafsirnya yang memunculkan sekian bentuk tafsir - tafsir dengan berbagai macam corak, metode, dan pendekatan. Ditambah, yang memunculkan implikasi hukum yang dijalankan bersanding dengan sunnah, dan melahirkan ribuan jilid kitab - kitab fiqh yang merupakan hasil interpretasi, interaksi, dan realisasi dari keduanya. Belumlah pada akhirnya, ketika sesuatu harus diamalkan. Sebagaimana al-Qur'an pula, dan pada akhirnya sebagaimana kata pak Quraish (atau saya kurang dhobit, apakah beliau pernah berbicara ini atau tidak, dalam buku ataupun ceramahnya) yaitu bagaimana menjadikan al-Qur'an sebagai hidangan. Dalam arti, sebagaimana sebuah hidangan, tentulah penjamunya atau kita semestinya menikmatinya sebagai sebuah berkah yang akan masuk kedalam tubuh, dan diserap sari - sarinya untuk diedarkan melalui darah keseluruh tubuh, hal itulah yang ingin dicapai al-Qur'an sebagai sebuah sumber utama Islam.
