Bagaimana pendapat anda tentang laman ini ?

Statistik

Kamis, 21 Juni 2012

Historia - Semester 2

Bismillahirrahmaanirrahim

Ada berbagai macam cerita selama masa kurang lebih 4 bulan masa perkuliahan ini, artinya dimasa - masa penuh dengan macam - macam kegalauan yang mampir kedalam kehidupan saya, anda, dan kita semua. Tapi, itu hanyalah satu bagian kecil dari memori - memori yang tercatatkan dalam sejarah besar kita masing - masing.

Kemudian, ceritanya akan dimulai dari refleksi kami sebagai mahasiswa. Ya Allah, satu sisi bagi yang sudah pernah hinggap di pesantren - pesantren dalam kurun waktu yang lama, dan mengoptimalkan masa - masa "tak nikmat: itu, tentunya "Kulliyah al-Dirasah al-Islaamiyyah"  UIN Jakarta secara umum bukanlah perkuliahan yang menyulitkan, kalaupun kendala penggunaan bahasa itu akan mudah (Insya Allah) terselesaikan dalam waktu yang tidak lama karena dalam dunia teks dan interpretasi makna - makna tidak mengalami masalah yang berarti. Tapi, kalau tidak, maka cukup menjadi problematika yang cukup memakan waktu dan pikiran (itupun kalau mau dipikirkan).

Di semester genap ini, yang perlu ditekankan adalah bahwa kami tidak bertemu kembali dengan teks - teks berbahasa Indonesia, apalagi Inggris (keduanya menggunakan huruf yang sama). Dan, kami kira mata kuliah yang disampaikan mulai terlihat "taji"nya , sehingga sebetulnya butuh perenungan, pemahaman, dan yang cukup mendalam (itu pun juga kalau mau dilakukan, lain cerita nantinya kalau malas wa akhwaatuhaa menghampiri). Disisi lain, kami pernah merasa bahwa diperkuliahan nanti, seseorang akan dituntut untuk bersikap kritis dengan penalaran, tidak berpusat pada menghafal, dan tidak berkutat pada satu buah pemahaman saja. Inilah yang, pernah dikira oleh kami ketika melihat sosok seorang yang hendak memasuki bangku kuliah. Apalagi, disaat yang sama dunia akademis di UIN (baca: dulu IAIN) dikenal sebagai poros pemikiran yang beraneka ragam tentang Islam. Bahkan, pernah (atau mungkin masih) ditengarai sebagai tempat bersemayamanya tokoh - tokoh Islam, yang dicap liberal, karena banyak melakukan interpretasi - interpretasi yang dianggap "mencederai" makna tauhid dari Islam sendiri. Sehingga, sedikit banyak hal ini menimbulkan dorongan yang kuat untuk menelusuri hal - hal itu yang hanya diketahui lewat 'katanya-katanya' dan "media-media".

Hal ini, sepanjang yang kami amati, tidak sepenuhnya terpenuhi bahkan oleh kami sendiri. Faktor dalamnya kami kira adalah kurangnya ketekunan yang muncul pada diri kita, yang semestinya bersikap tidak lagi menjadikan buku diatas kita selalu, tapi paling tidak memahami betul buku kita letakkan diatas kita tersebut, sebelum sampai meletakkan setingkat dengan kita. Artinya, buku yang diyakini sebagai jejak-jejak ilmu adalah objek dialogis, bukan objek dogmatis sehingga, implikasinya adalah kita senantiasa berusaha menguji kebenaran didalamnya, dengan pembandingan, penelurusan, dengan berbagai macam sumber - sumber lain hingga tercapainya garis merah objek yang kita pelajari. Ini, sangat jarang selama masa ini ditemukan kami, entah sebab bahasa (sebuah masalah klasik, yang masih senantiasa ada di fakultas ini) ataukah faktor luar dimana dunia sangat mobile dan practically-oriented dalam konotasi negatif, ini ternyata sedikit banyak melupakan budaya menulis, menggali, merenungi sehingga memahami setiap apa yang kita lihat, dengar, dan ucapkan. Kami sendiri, menyadari bahwa dengan munculnya fasilitas - fasilitas jejaring sosial yang berimplikasi kepada mungkinnya mengekspresikan sikap kita masing - masing.

*bersambung

Selasa, 29 Mei 2012

Download Kimiyaa al-Sa'aadah

Salahm satu risalah yang ditulis sufi besar Imam Abu Hamid al-Ghozali
Silahkan dinikmati !!

Kimiyaa al-Sa'aadah / Formulasi Kebahagiaan

Sabtu, 19 Mei 2012

Kritik Budaya dan "Ceplokan" Ulang Tahun

      Lebih dari sebulan yang lalu, saya sebetulnya sudah sering menyaksikan itu sejak masih sekolah ditingkat menengah, namun saya baru melihatnya kembali disaat bangku kuliah pada saat itu. Ulang tahun, sebagai sebuah masa, bertambahnya umur dirayakan dengan menumpahkan tepung ke kepala seseorang yang ulang tahun, dengan argumentasi bahwa itu merupakan gambaran akan sikap apresiasi terhadap bertambah umurnya seseorang. Dan, hal itu pada awalnya, penulis kira hanya populer di kota besar saja, namun ternyata sudah sampai kepada daerah - daerah lain. Kesimpulan ini, didapat ketika melihat peristiwa itu, yang dilakukan oleh orang-orang yang saya kenal, begitu pula objek sasarannya. Peristiwa diatas masyhur dengan sebutan diceplokin, karena pada awalnya menggunakan telur mentah untuk ditumpahkan keatas kepala, dan kini bervarian dengan tepung, dan semacamnya dan dilaksanakan saat ulang tahun seseorang. Pada dasarnya, objek sasaran menolak.

        Pada prinsipnya, melihat dari hal yang terjadi diatas, sepertinya muncul kegelisahan mendasar seharusnya dari hal itu. Terjemahan budaya, yang pada awalnya menurut saya adalah kearifan lokal yang mengakar kuat dengan historitas dari objek tersebut, kemudian mempunyai pesan - pesan kearifan yang tinggi kemudian akan bergeser bahkan pendangkalan makna menjadi kebiasaan yang diikuti dari masa lalu saja, tanpa memperhatikan akar historiografi dan pesan - pesannya. Inilah, titik sederhana dari penguatan makna kebudayaan, apalagi jika disinkronisasi dengan pesan - pesan keagamaan yang sifatnya wahyu (sebagaimana Islam) yang bahkan mengisi sebuah budaya, menjadi lebih bermakna dan tinggi mutunya.      

    Kemudian, sudahkah budaya perayaan ulang tahun, dalam bentuk yang demikian telah menerjemahkan makna bertambahnya umur dari ulang tahun, atau ternyata justru menjadi distorsi yang cukup akut sehingga hanya terjebak pada warna-warna dzohir belaka. Ah, marilah kita memahami secara sederhana saja, kita mencoba membandingkan berapa efek negatif dan efek positifnya. Sederhananya, tidak ada seorangpun yang ingin diceplok dengan benda-benda atau apapun yang lazim berada diatas kepala, walaupun diterjemahkan dengan makna sebuah ekspresi kesenangan, namun sesuatu yang tidak lazim dan merugikan dari faktor dalam benda itu sendiri, justru bertentangan dengan semangat kebudayaan, logika yang sehat, dan suasana perasaan. Dan, pada umumnya hal ini menimbulkan perasaan tidak ridho, walaupun sesaat saja bahkan terhadap teman - temannya sendiri. 

     Sesudahnya, pada prakteknya seseorang dimasa kini akan melupakan terhadap apa yang dilakukan, karena demi menjaga solidaritas persahabatan, atau tidak ingin larut dalam ketersinggungan. Namun, perasaan itu akan muncul kembali pada saat temannya, memasuki hari ulang tahunnya. Maka, muncul perasaan saling membalas dengan keinginan supaya mendapatkan ganjaran yang sama dari apa yang pernah dilakukan terhadapnya diwaktu sebelumnya. Hal, ini juga yang justru mencederai semangat kearifan pesan budaya, dan hal itu gagal diperjuangkan oleh budaya ceplok itu sendiri. 

      Dan, disisi lain pada dasarnya hal ini dimasyarakat kosmopolitan seperti ini, tidak begitu banyak dipikirkan, untuk masalah ini yaitu nilai guna sesungguhnya dari benda - benda itu, seperti telur, terigu, dan benda - benda yang dijadikan "misil" bagi objek ulang tahun. Walaupun persaingan, dan permasalahan ekonomi adalah hal yang sering diperbincangkan, diperdebatkan, bahkan menjadi bahan bagus untuk demonstrasi, secara sederhana dilupakan untuk hal ini. Logika sederhanya, jika ingin memahami masalah yang besar, tidakkah lebih baik dengan belajar mendayagunakan sebaik mungkin, benda - benda yang sederhana agar mempunyai nilai guna ?

      Ketiga poin pada tiga paragraf tadi, adalah pekerjaan yang perlu dipikirkan dan dijadikan perenungan untuk perubahan dan relokasi kembali makna budaya dan kaitannya dengan praktek tersebut. Kami yang amatir ini, merasa masih ada cara - cara lain untuk menerjemahkan menjadi lebih baik sebuah budaya tersebut. Sangat banyak, memang hal-hal yang kontradiktif dengan pesan aslinya, dan supremasi makna mendalam dari budaya, dan pemaknaan agama yang mendalam juga bisa menjadi konklusi atas segala pertentangan ini. Dan semoga, hal ini bisa dijadikan langkah bersama bagi siapapun yang ingin mengangkat kembali, pesan - pesan luhur kemanusiaan yang mulai sirna, dan tergerus oleh nilai - nilai praksis yang tidak ada akar yang menancap kuat. Dan, semoga, bagaimanapun teks ini terbuka untuk kritik dan masukan, semoga. 

Wallahu a'lam bi al-showwab

Kamis, 19 April 2012

Mashodir al-Tasyri' fii 'ahdi al-shohaabah - Presentasi Tarikh Tasyri"

Assalamualaikum,
Teman2, untuk presentasi hari Jum'at dengan tema Mashodir al-Tasyri' fii 'ashr al-shohaabah, bisa di-download disini, semoga bermanfaat.


Download Presentasi Tarikh Tasyri'
http://www.4shared.com/file/_atCsrCa/____.html

Sabtu, 14 April 2012

al-Qur'an, Memori, dan Pak Quraish

Bismillahirrahmaanirrahim

Kamis siang, waktu itu sekitar jam 13.30 pada hari kamis, 12 April 2012 kami memutuskan untuk berangkat mengikuti langkah kaki, yang merupakan hasil respon dari sms jarkom (baca:jaringan komunikasi, ternyata populer dikalangan mahasiswa) ke Pusat Studi al-Qur'an (PSQ) di daerah Ciputat. Ini adalah kali pertama mengunjungi lembaga yang memang concern dibidang al-Qur'an, beserta ilmu - ilmu perangkatnya baik 'Ulum al-Qur'an, Tafsir, serta pengkaderannya dimana membina para pemilik hafal al-Qur'an untuk mengikuti pendidikan disana, masyhur dikenal dengan Pendidikan Kader Mufassir (PKM). Tapi, hari itu bukan hendak ikut program, yang khusus bagi para ahli, yang sedang melaksanakan pendidikan S2, atau S3 di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dan sekitarnya seperti Institut Ilmu al-Quran (IIQ), ataupun Perguruan Tinggi Ilmu al-Qur'an (PTIQ) Jakarta.

Titik pembahasan pertama, sms nyasar + barokah itu memang acara tentang pendalaman ulumul qur'an dan ulumul tafsir. Dengan segera, kami tertarik untuk hadir disana yang ternyata berbentuk sebuah shortcourse selama 8 pertemuan.

Ada hal yang pertama kali sangat mencolok, hal ini bukan bagian dari sifat norak, tapi saat hendak masuk, sontak kami melihat pak Quraish keluar, beliau hanya tersenyum simpul melihat beberapa orang yang hendak masuk untuk mengikuti program yang dilaksanakan atas kerjasama dengan seorang dosen tafsir (saya tak ingat namanya) dan Fakultas Ushuludin & Filsafat (FUF) UIN Jakarta.

Nampaknya, beliau hendak segera pulang, pada waktu itu dan ternyata memang benar ada sebuah mobil yang telah siap jalan dari tempat parkir, dan kami semua pun memberi ruang beliau untuk lewat. Dan akhirnya beliau meninggalkan PSQ, dan kami baru betul - betul tersadar setelah beliau pergi, dan kami hanya berkata: "Tadi itu Pak Quraish ??!!!".

Ya memang, jauh 2 tahun, kurang lebih sebelum kuliah di UIN, kami pernah membaca, karya - karya beliau yang ada.Tidak semua memang, tapi kalau ditarik garis merah yang kami dapati bahwa retorika yang halus itu sangat, bahkan mutlak mungkin dimungkinkan. Bahasa beliau yang halus, penuh moderasi, melihat sistamatika berpikirnya, dan hal - hal lain yang menyebabkan kami mengagumi tulisan - tulisan beliau.

Ya, moderasi dan ketenangan namun disertai argumen yang kuat, pada akhirnya memang lebih mudah diterima, dipahami, dan diserap masyarakat yang sedang dalam kondisi yang penuh dengan disparitas dan disintegritas sangat membutuhkan pembumian pesan - pesan al-Qur'an, yang menjadi sumber utama dalam Islam.

***___***

Dalam kaitannya dengan al-Qur'an, dimana kedudukannya membutuhkan tafsir, baik itu tafsir itu menggunakan media penafsiran riwayat-riwayat hadits yang dikenal dengan tafsir bi al-ma'tsur, ataupun menggunakan media akal pikiran yang dikenal dengan tafsir bi al-ra'yi. Kaitannya dengan Pak Quraish, yang dikenal paling tidak, atau menjadi favorit kalangan penikmat tafsir di Indonesia dengan penerangan - penerangannya tentang makna - makna ayat al-Qur'an yang mana sering dijadikan rujukan (seingat dan sependek bacaan kami) pada tafsir al-Mishbah adalah karya al-Thobathoba'i (Mufassir yang mempunyai tafsir al-Mizan) dan al-Biqo'i (dengan tafsir Nazm al-Duror). Keduanya adalah tafsir dengan corak bi al-ra'yi. Memang beliau, tidak terlalu banyak menggunakan riwayat - riwayat hadits, dan lebih sering menggunakan makna-makna bahasa, munasabah dengan ayat lain, serta makna-makna yang bisa digali didalamnya dan menggali pesan - pesan yang terkandung, sehingga bisa menjadi kawan dengan zaman, ataupun menjadi kritik bagi zamannya.

Mungkin hal itu, yang bisa sekilas kami bicarakan tentang pak Quraish, dengan tafsirnya. Bagi saya, al-Qur'an adalah hal yang sangat patut untuk diimani, dengan sistematikanya yang sangat menawan, dan tak terbantahkan sebagai sebuah wahyu yang otentik. Dan, bersaman dengan itu, dikelola pula oleh para sahabat yang punyai kapabilitas yang luar biasa, dengan bernafaskan iman. Bahkan, menghafalnya pun sejatinya tidak begitu sulit, sebagaimana yang dibayangkan sebagian kalangan. Belum, lagi ketika mengarah kepada tafsir -tafsirnya yang memunculkan sekian bentuk tafsir - tafsir dengan berbagai macam corak, metode, dan pendekatan. Ditambah, yang memunculkan implikasi hukum yang dijalankan bersanding dengan sunnah, dan melahirkan ribuan jilid kitab - kitab fiqh yang merupakan hasil interpretasi, interaksi, dan  realisasi dari keduanya. Belumlah pada akhirnya, ketika sesuatu harus diamalkan. Sebagaimana al-Qur'an pula, dan pada akhirnya  sebagaimana kata pak Quraish (atau saya kurang dhobit, apakah beliau pernah berbicara ini atau tidak, dalam buku ataupun ceramahnya) yaitu bagaimana menjadikan al-Qur'an sebagai hidangan. Dalam arti, sebagaimana sebuah hidangan, tentulah penjamunya atau kita semestinya menikmatinya sebagai sebuah berkah yang akan masuk kedalam tubuh, dan diserap sari - sarinya untuk diedarkan melalui darah keseluruh tubuh, hal itulah yang ingin dicapai al-Qur'an sebagai sebuah sumber utama Islam.

****_____****

Pada akhirnya, tiga unsur judul diatas adalah beberapa titik penting dari pengalaman yang berharga ini, dan semoga dengan ilmu, kita semua bisa bermanfaat bagi diri sendiri, dan orang lain, serta menjadi orang - orang yang selalu berdoa kepada Allah SWT, dan menjadi orang - orang yang mendapatkan petunjuk menuju jalan ilahi (falyastajiibuulii walyu.minuubii la'allahum yarsyuduun), Wallahu a'lam

Ciputat, 13 Mei 2012

Jumat, 13 April 2012

علاقة الحب بين الشاب والفتاة


د. نهى عدنان قاطرجي
 
بسم الله الرحمن الرحيم

تنقسم العلاقة بين الفتاة والشاب الغريب عنها إلى ثلاثة أقسام: القسم الأول هي العلاقة التي يستوجبها العمل أو المشاركة في أي مشروع نبيل. القسم الثاني وهي العلاقة التي درج على تسميتها بالعلاقة البريئة أو النبيلة، وهي المبنية على الزمالة أو الصداقة أما القسم الثالث فهو المتعلق بعلاقة الحب بين الشاب والفتاة .

1- علاقة الزمالة بين الجنسين

إن اللقاء بين الرجال والنساء في ذاته ليس محرماً، بل هو جائز أو مطلوب إذا كان القصد منه المشاركة في هدف نبيل، من علم نافع أو عمل صالح، أو مشروع خير، أو جهاد لازم، أو غير ذلك مما يتطلب جهوداً متضافرة من الجنسين، ويتطلب تعاوناً مشتركاً بينهما في التخطيط والتوجيه والتنفيد.
ولا يعني ذلك أن تذوب الحدود بينهما، وتنسى القيود الشرعية الضابطة لكل لقاء بين الطرفين، ويزعم قوم أنهم ملائكة مطهرون لا يخشى منهم ولا عليهم ، يريدون أن ينقلوا مجتمع الغرب إلينا ، إنما الواجب في ذلك هو الاشتراك في الخير، والتعاون على البر والتقوى ، في اطار الحدود التي رسمها الإسلام ومنها:
1- الالتزام بغض البصر من الفريقين، فلا ينظر إلى عورة، ولا ينظر بشهوة، ولا يطيل النظر في غير حاجة، قال تعالى: "قل للمؤمنين يغضوا من أبصارهم ويحفظوا فروجهم ذلك أزكى لهم إن الله خبير بما يصنعون، وقل للمؤمنات يغضضن من أبصارهن ويحفظن فروجهن".
2- الالتزام من جانب المرأة باللباس الشرعي المحتشم، الذي يغطي البدن ما عدا الوجه والكفين، ولا يشف ولا يصف، قال تعالى: " ولا يبدين زينتهن إلا ما ظهر منها وليضربن بخمرهن على جيوبهن" .
3- الالتزام بأدب المسلمة في كل شيء، وخصوصاً في التعامل مع الرجال :
أ- في الكلام، بحيث يكون بعيداً عن الاغراء والاثارة، وقد قال تعالى: ( فلا تخضعن بالقول فيطمع الذي في قلبه مرض وقلن قولاً معروفاً).
ب- في المشي، كما قال تعالى: ( ولا يضربن بأرجلهن ليعلم ما يخفين من زينتهن) ، وأن تكون كالتي وصفها الله بقوله: ( فجاءته إحداهما تمشي على استحياء).
ج- في الحركة، فلا تتكسر ولا تتمايل، كأولئك اللائي وصفهن الحديث الشريف ب(المميلات المائلات) ولا يصدر عنها ما يجعلها من صنف المتبرجات تبرج الجاهلية الأولى أو الأخيرة.
4- أن تتجنب كل ما شأنه أن يثير ويغري من الروائح العطرية، وألوان الزينة التي ينبغي أن تكون للبيت لا للطريق ولا للقاء الرجال.
5- الحذر من أن يختلي الرجل بامرأة وليس معهما محرم، قد نهت الأحاديث الصحيحة عن ذلك، وقالت: (ان ثالثهما الشيطان) إذ لا يجوز أن يخلى بين النار والحطب.
6- أن يكون اللقاء في حدود ما تفرضه الحاجة، وما يوجبه العمل المشترك دون اسراف أو توسعٍ يخرج المرأة عن فطرتها الأنثوية، أو يعرضها للقيل والقال، أو يعطلها عن واجبها المقدس في رعاية البيت وتربية الأجيال ".

2- علاقة الصداقة بين الجنسين

تعرّف الصداقة بأنها الحاجة إلى علاقة اجتماعية يتم فيها التواصل والتباذل والتزاور والتفاني والتعاون والتشاور والمباثثة للهموم والآمال، وهذا النوع من العلاقات يحث عليه الإسلام في إطار ما يعرف بالأخوة الإسلامية، المبنية على حسن اختيار الصديق، فنحن بحاجة إلى الصديق الذي يقوّي إيماننا ، ويزيد في علمنا ، ويناصرنا على قول وفعل الخير والحقّ ، وينهانا عن قول وفعل الباطل والمنكر ، ويدافع عنّا في الحضور والغياب ، وليساعدنا وقت الضيق والشدّة ، ولذا قيل : "المرء على دين خليله فلينظر أحدكم مَنْ يخالل" .
الصداقة إذن "عقد وميثاق أخوّة وتناصر وتباذل، تزداد مع الأيام والتجارب وثاقة، وليست لعبة نقبل عليها للتسلية ثمّ إذا مللناها تركناها كما يحدث مع الصداقة في مفهومها المعاصر فالصداقات اليوم ـ في العديد من نماذجها ـ هامشية سطحية تهدف إلى اللهو والثرثرة والسمر وتمضية الوقت، إنّها صداقات وزمالات تجتمع بسرعة وتنفرط بسرعة .. قد يجمعها العمر .. أو المدرسة، أو المحلّة ، أو النادي ، ويفرّقها : خلاف بسيط في الرأي ، أو مهاترة كلامية، أو نزاع على فتاة ، أو سخرية لاذعة ، أو خديعة ، أو الخضوع لإيقاع طرف ثالث .. وهكذا .
 
تحدث العلماء والأدباء عن الصداقة كأحد الأسباب التي يسعد بها الإنسان في حياته، لأنه لا يستغني عنها، حيث إنه مدني بطبعه، وممن استفاض في توضيح ذلك أبو الحسن البصري في كتابه "أدب الدنيا والدين" فقال: "إن أسباب الألفة خمسة، هي: الدين والنسب والمصاهرة والمودة والبر"، وتحدث عن الصداقة التي وصفها الكندي بقوله: "الصديق إنسان هو أنت إلا أنه غيرك".
والاختيار أساسه عقل موفور عند الصديق، ودين يدعو إلى الخير، وأخلاق حسنة،ولا بد أن يكون بين الصديقين الرغبة والمودة.وإذا كانت هذه آداب الصداقة بين الجنس الواحد، فهل الصداقة بين الجنسين بهذه الصورة .

الصداقة بين الجنسين

بدأت ظاهرة الصداقة بين الجنسين تغزو مجتمعاتنا نتيجة الغزو الاجتماعي والفكري الغربي التي فشت فيها هذه الصداقات فكثر استعمال مصطلحات الصديق الذكر (
Boy Friend) والصديقة الأنثى (Girl Friend) والتي لا تعبر عن علاقة صداقة بريئة وإنما هي علاقة غرامية محمومة، أو علاقة جنسية مباشرة . 
إننا نحاول أن نثير هذه الأمور لننفذ إلى هذه المسألة، كي نفهم المراد من عبارة الصداقة بين الجنسين، ونسأل: هل المراد من كلمة الصداقة وجود علاقة طبيعية بين رجل وامرأة تماماً كما هي العلاقة بين رجل ورجل وبين امرأة وامرأة في شؤون المحادثة، وفي شؤون الدرس، وفي شؤون الحياة الاجتماعية العامة؟
وهل المراد من الصداقة هو تلك العلاقة التي تقوم على التفاهم والاحترام المتبادل اللذين تحكمهما حاجة الطرفين إلى لقاء من أجل قضايا فكرية او اجتماعية أو سياسية؟ إذا كان المقصود هو هذا، فإن التحفّظات التي يمكن أن نستوحيها من بعض الأجواء الإسلامية الأخلاقية، ومن بعض الأحكام الإسلامية، تتركّز حول نقطتين:
النقطة الأولى: هي أنّ طبيعة هذه الصداقة التي نريد أن تتحوّل إلى أجواء طبيعية من اللقاء، ومن الاختلاط، قد توقع الطرفين في بعض الإشكالات الشرعية، وذلك أن هذه الصداقة لا يمكن أن تتم بشكل طبيعي بعيداً عن العُقَد التي يعيشها الطرفان، إلا بالانحراف عن الخط الإسلامي في بعض الأحكام الشرعية.
والنقطة الثانية: هي أن طبيعة التنوّع بين الرجل والمرأة لا يمكن لها أن تضبط الصداقة عند حدودها الطبيعية، لأن الصداقة تمثل حالة شعورية معينة ترتفع المشاعر الحميمة فيها كلما تعمّقت أكثر، وكلما شعر الطرفان بالوحدة أكثر. ومن الطبيعي بأنّ الغريزة سوف تعبر عن نفسها في هذه الحالة، بطريقة أو بأخرى، وإن تجاهلها الطرفان، إلا أنها تتجمع في المشاعر والأحاسيس، لتصل في نهاية المطاف إلى الانفجار بطريقة أو بأخرى.
إنّنا نركز على هذا الفهم المتحفظ للصداقة بين الجنسين، من خلال استيحاءنا لكثير من الأحاديث، ومنها الحديث التالي: "ما اجتمع رجل وامرأة إلا وكان الشيطان ثالثهما"، فهذا الحديث يؤكد أن طبيعة الاجتماع المنفرد تجعل الطرفين وجهاً لوجه أمام مسألة الأحاسيس الخاصة التي تنطلق من خلال التنوّع، ومن خلال انجذاب كل نوع إلى النوع الآخر.
حتى لو بدأت هذه العلاقة بريئة في البدء ولكنها سرعان ما تتغير وتتطور إلى ما هو أكثر من ذلك، أي إلى الحبّ والرغبة في الإقتران، وحتى إذا لم تصل إلى هذا المستوى ، فإنّ حميمية الجنسين لا تجعلها شبيهة بالعلاقة داخل الجنس الواحد، يقول رسول الله صلى الله عليه وسلم: "ما اختلى رجل وامرأة إلاّ وكان الشيطان ثالثهما"، ودخول الشيطان يكون بما يوحيه إليهما من انجذاب عاطفي وجنسي، قد يبدأ وسوسة لكنه قد لا ينتهي بها، لأن كثرة اللقاء والاختلاط والخلوة بين الشاب والفتاة يهيج العواطف ويحركها للمنكر .. وفي دراسة أمريكية تبين أنه حوالي 47% من ضحايا الاغتصاب في أمريكا كن ضحايا لاغتصاب أصدقائهن ! وحوالي عشرين بالمائة كن ضحايا لاغتصاب أقارب وأصدقاء العائلة ، وبعبارة أخرى : سبعين في المائة من الفتيات كن ضحايا للعلاقة " البريئة " .

وهذا الذي نؤكده يمكن أن نفهمه أيضاً، من خلال ما توصّل إليه علماء الاجتماع في إجاباتهم عن السؤال المطروح بشكلٍ دائم، وهو:

ـ هل يمكن أن تقوم صداقة بريئة بعيدة عن الجانب الجنسي بين الرجل والمرأة؟
1- تفيد إجابات العلماء، أن قيام مثل هذه الصداقة أمر غير عملي وغير واقعي، وربما نستطيع أن نصل إلى هذه النتيجة من خلال ملاحظاتنا للواقع المعاش الذي تجاوز الكثير من الحدود في العلاقة بين الطرفين.
2- إن الصداقة بين الرجل والمرأة وإن أدّت إلى نتائج إيجابية على مستوى الواقع الأخلاقي، فإنها تؤدي في المقابل إلى نتائج سلبية كبرى في هذا المجال، فتكون الصداقة قضية من القضايا التي يكون إثمها أكبر من نفعها؛ الأمر الذي يدخلها في جو التجربة الصعبة التي تقترب من الحرام، وقد ورد في الحديث: "المحرّمات حمى الله، فمن حام حول الحمى أوشك أن يقع فيه".
لهذا، فإننا نتصور أن على المجتمع المؤمن أن يدرس هذه الأمور دراسة دقيقة وواقعية، حتى لا يقع في التجربة الصعبة التي قد تسيء إلى الطرفين، أو إلى المجتمع المؤمن بالكامل، إننا نفهم أن الأخلاق لا بد لها من أجواء ملائمة، فنحن لا يمكن أن نقول للإنسان: اقترب من المحرقة ولا تحترق، ولا يمكن أن نرمي إنساناً بالماء ونقول له: لا تبتلّ.
وفي هذا الإطار من الصداقات تندرج علاقة الصداقة بين الجنسين حيث يفخر كثير من الشبان بعلاقات الصداقة التي تربطهما ببعضهما البعض وأن علاقتهما بريئة وما يربطهما هو صداقة حقة، حتى أن البعض يؤكد بأن علاقته مع الجنس الآخر أفضل من علاقته مع الجنس نوعه .
 
وهذا يدلنا على أن الصداقة البريئة بين شاب وفتاة يختلطان ببعضهما وقد يرى أحدهما من الآخر ويسمع ما لا يقدر على أن يصبر عليه شبه مستحيلة ..
الخصائص المشتركة فيما بين علاقتي الحب والصداقة
1- الاستمتاع برفقة الطرف الآخر.
2- تقبل الطرف الآخر كما هو.
3- الثقة في حرص كل طرف على مصالح الطرف الآخر.
4- احترام الصديق أو الحبيب والاعتقاد في حسن تصرفه.
5- المساعدة المتبادلة والنجدة عند الحاجة.
6- فهم شخصية الطرف الآخر واتجاهاته وتفضيلاته ودوافع سلوكه .
7- التلقائية وشعور كل طرف بأنه على طبيعته في وجود الآخر.
8- الإفصلح عن الخبرات والمشاعر الشخصية.

أما عن مجموعي الخصائص اللتي تنفرد بهما علاقة الحب فهما:

أ- مجموعة الشغف: وتشمل ثلاث خصائص وهي:
1- الافتتان : يعني ميل المحبين إلى الانتباه إلى المحبوب والانشغال به حتى عندما يتعين عليهم أن ينخرطوا في نشاطات أخرى، مع الرغبة في إدامة النظر إليه والن\تأمل فيه والحديق معه والبقاء بجواره.
2- ويعني تميز علاقة الحب عن سائر العلاقات الأخرى والرغبة في الالتزام والاخلاص للمحبوب، مع الامتناع عن إقامة علاقة مماثلة مع طرف ثالث.
3- الرغبة الجنسية : وتشير إلى رغبة المحب في القرب البدني من الطرف الآخر ولمسه ومداعبته ، وفي معظم الأحيان يتم ضبط تلك الرغبة لاعتبارات أخلاقية ودينية.
ب- مجموعة العناية : وتحوي خاصيتين هما:
1- تقديم أقصى ما يمكن حيث يهتم المحب اهتماماً بالغاً بتقديم أقصى ما يمكنه عندما يشعر بحاجة المحبوب إلى العون حتى ولو وصل الأمر إلى حد التضحية بالنفس.
2- الدفاع والمناصرة : وتبدو في الاهتمام والدفاع عن مصالحه والمحاولة الايجابية لمساعدته على النجاح.

2- علاقة الحب بين الشاب والفتاة :

كثيراً ما يطرح السؤال التالي: لماذا يتّهم الإسلام الحبُّ ويُدينه؟ والجواب أن الإسلام لا يتهم ويدين كل أصناف الحب ،إنما يتهم فقط ذلك النوع الذي ينشأ ويستمر في الظلام!!!وكل ما ينشأ في الظلام يختنق ولا ينتهي إلا في ظلام أشد منه " ،كما أن الاسلام لا يمانع الحب فهذا الرسول عليه الصلاة والسلام يقول: «ما روئي من المتحابين خير من النكاح»
 
إلا أن الإسلام يضع لهذا الحب آداب معينة وضوابط كثيرة تحده من الخروج عما هو مألوف والانزلاق في معاصي لا تحمد عقباها .
جعل الله سبحانه وتعالى الحب عنوان علاقته بأفضل خلقه وأقربهم إليه، فحين أخبرعن حالهم معه –سبحانه- وصف علاقته بهم وعلاقتهم به بقوله تعالى: "يُحِبُّهُمْ وَيُحِبُّونَهُ ".
وتنقسم علاقة الحب بين الشاب والفتاة في الإسلام إلى قسمين رئيسين: حب سوي، وحب غير سوي. فالحب غير السوي فهو إقامة علاقة حب بين شاب وفتاة لا تحل له وتربطهما علاقة تبيح هذا الحب .
أما الحب السوي فهو كحب الرجل لزوجه، وليس هناك ثمة مشكلة من هذه العلاقة لأنها علاقة سوية مستقيمة لا خطر منها، والمتأمل لأحوال المحبين يجد نماذج عديدة منها ما اشتهر تاريخياً قبيل الإسلام نجد عشاق العرب كانو يحبون الحب العذري وهو الحب العفيف الطاهر هؤلاء مثل قيس وليلى كيف أحبها هي بنت عمه يراها وهي خارجة ورائحة ترد الماء، وعاش في الصبا يراها فتعلق قلبه بها، كذلك عنترة وعبلة أو كُثيِّر وعزة أو جميل وبثينة،
على رأسهم الأنبياء عليهم السلام مثل:
1-نبي الله ابراهيم عليه السلام الذي كان يحب سارة زوجته سارة حباً شديداً لمدة ثمانين عاماُ، ومع حاجته الشديدة إلى الانجاب لم يتزوج من إلا بعدما طلبت منه السيدة سارة أن يتزوج من هاجر وألحَّت عليه .
2- نبي الله محمد صلى الله عليه وسلم الذي لم يستَحِ من إعلان حبه لعائشة حين عاد "عمرو بن العاص" منتصراً من غزوة "ذات السلاسل"،وسأله:"مَن أحب الناس إليك؟"-ظناً منه أنه سيكون هو- فقال له صلىالله عليه وسلم أمام الناس:" عائشة"!!!!!،فقال عمرو:" إنما أسألك عن الرجال"،فقال صلى الله عليه وسلم مؤكداً إعتزازه بعائشة: أبوها" .
وهذا إضافة إلى حبه الشديد للسيدة خديجة رضي الله عنها ، وكان يقول لعائشة رضي الله عنها عندما تبدي غيرتها منه:" إني قد رُزِقتُ حبَّها"!!!!(رواه البخاري .
3- قصة مغيث وبريرة كانا زوجين... لكن ما لبثت الخلافات بينهما أن اشتعلت، حتى انتهى الأمر بالطلاق.. ولكن مغيثًا ندم على ذلك بشدة؛ لأنه لم يستطع أن ينزع حبها من قلبه، وفشل في أن يخفيه، وظل كبده يتحرق شوقًا إلى حبيبته، فكان يجوب الطرقات وراءها... ودموعه تسيل على خديه.. ومن فرط صدق هذا الحب وجماله رق إليه قلب رسول الله صلى الله عليه وسلم فذهب إلى بريرة و قال لها: "لو راجعتيه؛ فإنه أبو ولدك" . فقالت له: أتأمرني..يا رسول الله؟ فقال لها: "إنما أنا شافع" ... قالت: فلا حاجة لي فيه..
 
من هنا فلا بد من "التفريق بين الحب كممارسة وسلوك وبين الحب كمشاعر ، فالحلال منه إذا كان مجرد مشاعر أما إذا تحول الحب إلي سلوك كلمسة وقبلة ولمة ففي هذه الحالة يكون حكمه حراما وينتج عنه سلبيات كثيرة لأنه من الصعب على المحب ضبط حبه" .
وقد كانت امرأة العزيز ونسوة المدينة المثل الذي ضربه الله تعالى نموذجا للحب الذي يتعدى المشاعر إلى السلوك العملي .

نظرة الشاب إلى الحب

قبل أن نبدأ في موضوع الحب غير السوي نورد القصة التالية التي ذكرتها جريدة النهار في عددها الصادر في21/7/2004 : "مها فتاة جامعية تدرس الكيمياء ولها طريقتها الخاصة في العيش ولا تسمح لأحد بالتدخل في خصوصياتها التي لا تخفي شيئاً منها عن الاهل والاصحاب، لانها منسجمة مع نفسها كما تقول.
 
بدأت الحكاية، عندما كانت في الصف الاول الثانوي وتحب زميلها في الصف ويدّعي انه يحبها. وبعد علاقة امتدت طيلة العام الدراسي وقبل انتهائه بيوم واحد، زارته في منزله بناءً على طلبه، وحدث ما حدث. "حينها فقدت عذريتي لكني لم احمل لحسن حظي"، تقول مها مبتسمة كأنها تستذكر ايام الطفولة والبراءة باستهزاء تام وبثقة السيدة الناضجة التي "ناطحت" تجارب العالم بأسره.
 
في اليوم التالي لتلك الليلة، الاولى في تجربتها واحاسيسها، التقته في المدرسة وعاملها بازدراء كانت تنتظر نقيضه. وعندما انفعلت في وجهه ووجهت اليه بعض الاهانات "الطفولية"، اجابها: "ما حدا ضربك على ايديك، وانا ما عاد بدّي شي منّك". تلك كانت آخر عبارة سمعتها منه، انتقل بعدها الى مدرسة اخرى وتركها تتخبط في أفكار عدة منها الندم والحسرة والحزن طيلة الصيف...
 
وتعيش مها حالياً قصة حبها الخامسة على التوالي، وفي كل واحدة كانت تمارس الجنس، لكنها ادمنته ولم تعد تكتفي بشاب .

من هذه القصة يمكن أن نستشف بعض الأشياء التي تجهلها المرأة عن الرجل أنه من تركيبة تختلف عن تركيبتها، ويتصرف بطريقة تختلف تماما عن طريقتها، ومن هذه الاختلافات في نظرة الرجل والمرأة لعلاقة الحب هذه :

1- الشاب لا يرضى أن يقترن بامرأة "مستعملة" حتى لو كان هو من استعملها، لأن من وقعت في الحرام معه لن يمنعها شيء من الوقوع في الحرام مع غيره .
2- عندما يريد الشاب أن يبدأ في علاقة مع الفتاة فإنه يفكر فيها كأداة أو وسيلة لتفريغ شهوته، أي أنه ينظر لها نظرة جنسية .
3- الشاب لا يريد تحمل أعباء الزواج وتكاليفه ولهذا يكتفي منها بما تعطيه من نفسها ثم يتركها .
 

أما الفتاة فنظرتها إلى الحب
 
1- الفتاة عاطفية لدرجة أنها تستخدم عاطفتها كثيرا في الحكم على الأشياء ، وحساسة وسريعة التأثر بما حولها، وضعيفة وتحتاج لمن يساندها ويقف بجانبها ؛ ولذلك فهي عندما تحب فإنها تفقد عقلها وتصبح كاللعبة بين يدي الشاب، وقد تعطيه كل ما تملك بدون أن تعي ما الذي تفعله بنفسها وما الذي تجنيه من جراء ذلك !!
وهذه الأمور إيجابية وسلبية في الوقت نفسه، وقد تتغير من فتاة إلى فتاة أخرى، ولكن تبقى هذه السمات غالبة عند النساء، وهي موجودة بدرجة أقل عند الشباب ..
2- الفتاة تنظر للشاب على أنه مصدر للحب والعاطفة والقوة .
3- الفتاة تحب أن تترجم الحب إلى علاقة زواج ، ولا ترضى أن تكون أداة يلهو بها الرجل وتلهو هي به لفترة ثم تتركه ويتركها ، ولهذا فهي تطلب من صديقها الزواج وتلح عليه في ذلك.
 
وأخيرا إذا حاولنا أن نعرف الأسباب التي تدفع الفتاة إلى إقامة علاقة بين الشبا فنجدها فيما يلي :

1- الحاجة إلى التعاطف الصادق:
 
تشعر بعض الفتيات معاملة سيئة من أهلها، مما يدفعها إلى البحث عن البديل، "وإنه من الغريب جدا، أن كثيراً من الفتيات لا يسمعن كلمات الحب والغزل والمدح إلا عن طريق الحرام !! فعندما تسمع كلمة : " أنا أحبك " لأول مرة يكاد قلبها يطير فرحا بها ، وكذلك عندما يقال لها : " أنت جميلة " أو " اشتقت لك كثيراً " أو غير هذا من الكلمات التي ينبغي أن تسمعها البنت من أبويها وإخوتها ... ولو كانت تسمع مثل هذه الكلمات بالحلال لأصبح احتمال انجرافها وراء من يُسمعها إياها بالحرام أقل . ولكن الذي يحصل أنها لا تسمع منها شيئا حتى تسمعها من الغريب ! أما الوالد والوالدة فقد تسمع منهما ما يزيدها هما إلى همها ، وربما لا تسمع منهما شيئا البته" .
إن مجتمعنا جاف جدا ، والمشاعر قد تكون مختفية في البيوت إلا في القليل منها .. وعندما تبحث الفتاة عن مكان تفرغ فيه عاطفتها فلا تجد إلا والدا مشغولا بعمله ، وأما مشغولة بأشياء تافهة .. وعندما تبحث عن شخص يبادلها الشعور بالحب ولا تجده في البيت .. وعندما تتاح لها الفرصة في إيجاد البديل – في غيبة من الدين والعقل - … فهل بعد هذا نستغرب إذا انحرفت مشاعرها عن طريقها الصحيح ؟
لذا يجب على الوالدين أن يظهرا مشاعرهما لابنتهما، وإظهار المشاعر يكون بالكلام الجميل (أحبكِ ،حبيبتي ، اشتقت إليكِ … الخ)، ويكون بالقبلة واللمسة والضمة الأبوية الحانية ..وليتأكد الوالدان أن ابنتهما إن وجدت عندهما ما يغنيها عن الحرام فإنها في مأمن من ألاعيب المعاكسين، ولا يعني هذا أنها ستكون في غنى عن الزوج .. ولكنها ستكون أكثر صموداً أمام الإغراءات من تلك التي لم تتعود على الكلام الجميل وعلى الاهتمام بها في البيت .
نستطيع أن نقول إن الفتاة في مجتمعنا عندها مشكلة حقيقية في إيجاد شخص يتعاطف معها ويكون قريبا منها، "يتشرب المشاكل والهموم، ويستمع للشكوى ويظهر التعاطف والحب الصادق، خصوصاً عندما تكون الفتاة محاطة بأب بعيد عنها وبينها وبينه علاقة رسمية تمنعها من الشكوى له ؛ وأم لاهية عابثة بعيدة عنها تتعامل الفتاة معها بعلاقة رسمية بحيث لا تستطيع الفتاة أن تجعل منها صديقة لها ، وبعيدة عنها بحيث أن الأم لا تنزل للمستوى العمري المناسب لابنتها ولا تتفهم حاجتها في هذا السن" .
وهكذا تبرز الحاجة للتعاطف وللاستماع كسبب أول لبحث الفتاة عمن يستمع إليها ، فتجد في الشكوى للشباب فرصة للتنفيس عن نفسها، وهكذا تتخلص الفتاة بشكواها للشاب من مشكلة عدم وجود من يسمعها ولكنها تقع في مشكلة التعلق بالشخص الذي يساعدها في حل مشاكلها .

2- الحاجة إلى الحب:

الفتاة الطبيعية عبارة عن "كتلة متحركة من العواطف التي تتأجج في كثير من الأحيان وتسكن في أحيان أخرى ، ومن هذه العواطف عاطفة الحب . والحب الذي أقصده ليس حب الفتاة لوالدها أو والدتها أو لأخيها أو غيرهم من الأشخاص والأشياء ، بل هو الحب بمعنى الميل العاطفي والذي يكون للزوج - بالحلال - أو العشيق – بالحرام. - .
وهذه الحاجة موجودة أيضا عند الرجال، ولكن الفرق بين الرجال والنساء أن الرجل يتحكم في عواطفه ويتغلب عليها في كثير من الأحيان - كما ذكرنا سابقا - ، بينما تعجز المرأة عن هذا في كثير من المرات .والفرق الآخر أن الرجل يستطيع أن يشبع هذه الحاجة بالزواج ممن يحب وليس عليه حرج في ذلك ، بينما تبقى المرأة تتعذب وتتألم في انتظار ذلك الخاطب الذي يأتي ليطرق الباب، وإن ابتلاها الله بالحب فإنها لن تستطيع أن تتقدم لخطبة من تحبه ولا أن تصرح بذلك لأحد".

3-مشكلة العنوسة
 
عاطفة الأمومة من العواطف التي تؤثر كثيرا على الفتيات، وهي عاطفة أودعها الله في الأنثى، واليوم يعاني مجتمعنا من ارتفاع شديد في نسبة العنوسة، وتأخر سن الزواج بالنسبة للشباب والفتيات، وأصبح الزواج يكلف الشاب ما لا يستطيع أن يوفره إلا بجهد ومشقة هذا بالإضافة إلى كثير من التعقيدات الاجتماعية الأخرى … فأصبحت معوقات الزواج كثيرة جدا لدرجة أن كثيرا من الفتيات قد يصل بها العمر إلى منتصف العشرينات وهي لم تتزوج بعد ، وبعضهن تستمر معاناتها لسن أكبر من هذا السن .
إذا تخيلنا هذا فإننا سنعلم أن هذه العاطفة تؤرق الكثير من الفتيات، وأن علاقات الحب المحرمة قد يكون من أهم أسبابها أنها - في نظر الفتاة – سبيلاً لايجاد زوج وبالتالي الحصول على الأطفال .
 

Perlu dibaca untuk masa sekarang, dan jangan senyum - senyum sendiri, ya !

Senin, 09 April 2012

Mencoba Memahami Air Suci (Qo'ah al-Bahts)

Untuk kawan-kawan kelompok 1:

bisa melewati link-link dibawah ini untuk mendownload kitab2 berkaitan dengan pembahasan air suci, yang

rencananya berjudul al-maa, al-tadwiir li al-thohaaroh (Air Daur Ulang untuk Thoharoh

download disini --> Bidayah al-Mujtahid wa Nihayah al-Muqhtashid -Ibn Rusyd al-Andalus
download al-Fiqh al-Islami wa Adillatuhu - Syaikh Wahbah Zuhaili
Fiqh al-Islami al-Mu'aashiroh
Silabus penulis skripsi - FITK UIN 2008  
untuk cara penulis skripsi bisa dilihat di Pedoman Akademik 2011-2012

kita coba sama2, semoga bermanfaat !!!!!